Saturday, November 10, 2012

A short story of startup business




Startup business atau new business atau new ventures, kurang lebih memiliki arti yang sama yaitu sebuah bisnis baru. Meskipun istilah ini lebih dikenal untuk industri teknologi, namun industri lain yang tidak berbau teknologi masih bisa dikategorikan dalam makna yang serupa.

Seperti Christoper Columbus yang ingin menaklukan dunia, pergi ke barat dan menemukan benua Amerika (walaupun tidak sengaja) atau Kapten Jack Sparrow yang ingin menemukan rahasia "The Fountain of Youth" di samudera yang tak bertepi, mereka semua memiliki kesamaan semangat yaitu api yang menyala-nyala di dalam dada untuk menaklukan dunia.

Kalau kita kebetulan nonton acara Dragon Den di BBC Knowledge, ada begitu banyak orang yang memiliki mimpi untuk memiliki sebuah usaha sendiri. Mulai dari bisnis sushi-in-the-box, ayunan bayi, event organizer, advertising company, pakaian, toys, dll. Semua orang-orang tersebut juga memiliki semangat yang sama dengan Columbus, ada sebuah mimpi yang ingin diwujudkan.

Kebetulan, personally saya juga melakukan hal yang sama setelah berkelana selama 11 tahun di dunia korporasi, yaitu mewujudkan mimpi yang sudah lama ingin direalisasikan. Ada idealisme untuk membangun sebuah brand dari nol dan membuat perusahaan yang "fun" sebagai tempat untuk bekerja.

Kalau dibandingkan, sebenarnya proses bisnis selama kita berada di dunia korporasi dan bisnis yang kita buat sendiri kurang lebih memiliki pattern yang serupa, walaupun tentu saja dalam kondisi yang berbeda yakni Marketing dan sales menjadi ujung tombak perusahaan, didukung oleh produksi, finance, accounting, HR, GA, dll. Jika di korporasi masing-masing fungsi dipegang oleh orang yang berbeda, di startup business mungkin pendirinya yang akan memegang dan menjalankan semua fungsi tersebut. 

Nah, setelah melakukan pengamatan terhadap beberapa startup bisnis, maka new ventures yang sukses memiliki balance antara marketing dan sales sebagai ujung tombak dengan supporting seperti accounting, finance, HR, production, customer service, dll.  Ibarat permainan sepakbola, antara offense (sales dan marketing) dengan defense (keuangan, produksi, manufaktur, HR, dll) haruslah seimbang. Menyerang terus ke depan tanpa memperhatikan lini belakang, pasti akan kebobolan. Begitu juga terlalu defensive, sibuk dengan lini belakang, bingung begitu akan mencetak gol, terlalu jauh jarak yang harus dikejar sampai ke gawang lawan. 

Jika hanya paham produksi, biasanya akan keteteran untuk marketing dan salesnya, ujung-ujungnya bisnis baru itu mungkin hanya menjadi tempat produksi untuk merek lain. Jika hanya mengurusi sales dan marketing, maka bisnis akan kedodoran karena keuangan dan produksi berdarah-darah.

Ini sepertinya terlihat sepele, namun kesalahan ini terjadi berulang-ulang di banyak startup. Entah karena malas bertanya, atau terlalu pede dengan kemampuan diri sendiri. Padahal di tahap "the valley of death" mencari mentor yang tepat akan membantu bisnis itu bergerak. At least bisa terhindar dari kesalahan elementer yang pernah dilakukan oleh startup lainnya.   

Contoh paling mudah untuk dipahami mungkin ada di film Schindler's List, Mr. Oskar Schindler (Liam Neeson) bisa menyelamatkan nyawa 1.100 orang Yahudi dengan mendirikan perusahaan penyuplai alat-alat militer rezim Nazi Jerman, Mr. Schindler yang menjadi sales dan marketing dengan kemampuan lobby-nya terhadap Jenderal-jenderal Jerman, sedangkan Itzhak Stern (Ben Kingsley) yang menjadi otak finance dan produksi perusahaan tersebut. 

Moral storynya adalah mencari partner yang tepat dan bisa saling mengisi akan menjadi modal awal yang berharga bagi sebuah startup untuk berkembang. Apalagi jika memiliki mentor yang bisa membantu mencari funding dan solusi bisnis lainnya untuk perusahaan tersebut, seperti Mark Zuckerberg, pendiri facebook yang banyak dibantu oleh Sean Parker pendiri Napster, dan Steve Jobs yang dibantu Ross Perot pada saat awal bisnis tersebut baru dibuat. Memperkuat perusahaan dengan tidak berhenti belajar di semua sisi yang berhubungan dengan bisnis akan membuat bisnis tersebut menjadi semakin berkembang.

So, selamat mengarungi lautan bisnis untuk mencari "The Fountain of Youth" seperti yang dilakukan oleh Captain Jack Sparrow, the Pirates of Caribbean.