MCDONALD'S BRIEF STORY

5:14 AM



"I believe in God, family, and McDonald's - and in the office, that order is reversed"


Quote di atas, yang berasal dari film “The Founder”, mengisahkan bagaimana pragmatisnya kultur McDonald's untuk memenuhi “brand promise” atau janji pemilik brand kepada customer loyalnya.

Brand iconic yang awalnya adalah sebuah restaurant tahun 1940 didirikan oleh Richard & Maurice McDonald di San Bernardino, California sempat mengalami pasang surut, namun kedatangan Ray Kroc pada tahun 1955 dengan visi besarnya membuat McDonalds sukses dan bertransformasi menjadi perusahaan global.

Jika kita cuma memandang dari luar, mungkin kita akan bertanya-tanya apa sih yang membuat McDonald's menjadi begitu besar dan bisa beroperasi di 120 negara, sedangkan banyak orang lain yang memiliki mimpi yang sama harus menerima kenyataan untuk gagal dan bahkan gulung tikar?

"Nothing in the world can take place of persistence. Talent will not; nothing is more common than unsuccessful men with talent. Genius will not; unrewarded genius is almost a proverb. Education will not; the world is full of educated derelicts. Persistence and determination alone are omnipotent."


Quotes di atas, mungkin bisa sedikit menggambarkan determinasi seperti apa yang dilakukan oleh Mr. Kroc yang seharusnya kita teladani. Dengan filosofi, kecerdikan, dan determinasi tinggi menjadi spirit awal perusahaan berlogo double arch ini: visi mantan salesman mixer minuman milk shake ini ingin membuat McDonald's menjadi perusahaan papan atas - dengan menyediakan makanan ala Amerika di seluruh dunia, dengan cepat, bersih, dan nyaman.

Mungkin mirip dengan visi Tadashi Yanai-san, pendiri UNIQLO yang bermimpi untuk merubah cara orang berpakaian di seluruh dunia.

"Kalau kita bedah dengan Brand Prism Model, yang diciptakan oleh Jean Noel Kapferer, kita bisa lihat bagaimana McDonald's mungkin sudah memiliki posisi yang mapan di pasar, dan mampu mengomunikasikan identitas merek (Brand Identity) yang diinginkan". 

Posisi mereka saat ini sebagai market leader di industri fast food, tinggal bagaimana manajemen McD membuat brand ini tetap relevan di pasar dan tetap dekat dengan target marketnya: anak-anak muda millennial (Gen X) dan upcoming Gen Y yang memandang McD sebagai lifestyle dan bagian dari kultur mereka sehari-hari.

Beberapa hasil Riset dari IDN Research mengenai behavior kaum millennial Indonesia bisa dilihat di page ini > millennial research atau juga sudah pernah dibahas di artikel sebelumnya di artikel ini > membedah generasi selfie







McDonald's pertama kali hadir di Indonesia 23 Februari 1991, sebuah perjalalan panjang sebuah brand untuk membutnya menjadi bagian kehidupan konsumen Indonesia. Dari yang awalnya sangat pede dengan menu burger, fries dan coca-cola, akhirnya mau mengadopsi ayam goreng dan nasi yang lebih dekat dengan kultur Indonesia.

Menu terkininya pun sudah berkembang menjadi Rice McD Rp. 15.000,- terdiri dari Blackpepper Chicken, Rica Rica Chicken, dan Rica Rica Fish, serta tak ketinggalan tren Ayam Geprek pun juga diadopsi oleh McD Indonesia.





Dan patut juga kita apresiasi manajemen McD yang meluncurkan McCafe untuk mengantisipasi Third Wave Coffee Culture, tren kultur ngopi yang lebih advanced yang saat ini marak di Indonesia.

Pada era Third Wave Coffee Culture (era mulai tahun 2000-an) ini, konsumen dengan mudah mampu mengetahui dari mana sebuah biji kopi berasal, bagaimana biji tersebut diproses dan kelak dengan apa kopi tersebut disajikan. 

"Istilah "single origin" mulai muncul di era ini, dan pengetahuan konsumen akan asal muasal biji kopi menjadi ciri khas gelombang ketiga tren kopi tersebut". 

Sebagai perbandingan di era First Wave Coffee Culture (era tahun 1800-an sampai 1990-an), lebih menitikberatkan pada era mulai meluasnya kopi instan dan meningkatnya demand untuk ngopi. Sedangkan pada Second Wave (gelombang kedua tren ngopi - era tahun 1990-an sampai 2000-an), pengetahuan konsumen mengenai kopi semakin bertambah seiring dengan semakin populernya brand Starbucks.

"Starbucks adalah brand yang berasal dari Seatlle, USA, berdiri sejak tahun 1971 namun baru populer di dunia sekitar tahun 1990-an. Meningkatkan awareness secara global untuk proses pengolahan dan penyajian biji kopi berkualitas, yang menjadi pengetahuan baru bagi konsumen".

Ciri lain dari Third Wave Coffe Culture adalah mulai banyak bermunculan roaster dan kedai kopi independen yang mengoperasikan bisnisnya secara kecil-kecilan. Coffee shop baik kecil maupun besar menyangrai kopi mereka sendiri dan bereksperimen dengan beragam biji kopi.

Di era ini juga perburuan biji-biji kopi eksotis mulai digemari. Seluruh penjuru dunia mulai mencari ragam-ragam kopi dan tertarik mengeksplorasi after taste yang ada pada setiap kopi: bodi, acidity, bitterness, sweetness, aroma, manual brew dan lain-lain.

"Proses penyeduhan pun menjadi semacam ritual baru bagi penggemar kopi, yang membuat Starbucks akhirnya membuat Starbucks Reserve, untuk mengantisipasi tekanan dari independent coffee-roasters".

McCafe by McDonald's, sebagai contoh kalau kita berkunjung ke salah satu outlet misalnya di Kemang, cafe ini berusaha membuat unsur "cool dan trendy" untuk target market anak-anak muda tetap terpelihara, sehingga membuatnya tetap relevan dengan salah satu target pasar yang dituju.






Industri kuliner di Indonesia adalah industri dengan persaingan yang sangat ketat, tidak hanya global brand seperti McDonald's, KFC, Burger King, dll tetapi juga didesak kuat oleh brand-brand lokal yang ingin eksis di Indonesia dan di mancanegara.

Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah brand lokal yang juga bergerak di industri kuliner yang ingin dibuatkan 'Strategi Marketing' yang jitu agar bisa digunakan untuk bertarung di Industri kuliner dengan persaingan yang keras ini.

Hal ini tentu saja sebuah tugas yang tidak mudah, perlu kejelian menganalisa pasar, mengamati perilaku konsumen yang sedang berubah dan juga perlu ide-ide serta terobosan kreatif untuk membuatnya stand out dan mampu meraih hati konsumen Indonesia.

Banyak cafe dan restoran yang didirikan dengan semangat 45 akhirnya harus gulung tikar karena tidak ada pembeli yang mampir, atau salah lokasi, atau salah target market, dan banyak faktor lainnya.

"Dan tidak menutup kemungkinan, bisa saja pesaing di masa depan bukan dari perusahaan yang fokus di industri kuliner, tapi bisa jadi malah dari industri yang lain seperti tech companies ataupun Barber Shop (Chief Cafe & Barber Shop)".

Capital One bahkan mengkombinasikan bank dengan cafe. Contoh lain yang sedang hot saat ini adalah, Amazon (perusahaan raksasa ritel online Amerika) yang mengakuisisi WholeFoods dan agresif menawarkan kopi dengan cara baru kepada konsumen Amerika untuk menghantam pasar Starbucks.

Ketidakpastian itu adalah satu-satunya hal yang pasti saat ini, menurut ekonomom dari Stockholm School of Economics: Jonas Ridderstrale dan Kjell A. Nordstorm, "Business requires a constant search for differentiation, organization innovation, more competition for everything, everywhere".





Sebagai salah satu market leader di kategori makanan siap saji (fastfood), tentu saja McDonald's tetaplah tidak boleh berleha-leha, harus selalu waspada, dan selalu melihat ke depan dan mengantisipasi kompetisi yang ada.

Kalau menggunakan model Brand Resonance di atas, brand global seperti McD tentu saja memiliki competitive advantage berupa deep awareness dan bahkan sudah mencapai puncak piramid loyalty dan memiliki struktur community engagement dibandingkan dengan kompetitor lainnya. Namun justru di sini tantangan terberatnya karena:


1. Secara strategi, tidak boleh terpeleset oleh kasus-kasus yang bisa mengancam keberadaan brand seperti yang dialami Chipotle di Amerika, penjualannya sempat anjlok akibat isu bakteri pada makanan.

2. Sebagai market leader, bagaimana memaintain posisi tersebut dan mengalahkan kompetitor baik yang baru masuk serta kompetitor lama. Tentu saja, sebagai pemain yang sudah established - McD harus bersikap layaknya seperti market leader: calm and confidence.

3. Bagaimana mengadopsi teknologi terbaru untuk meningkatkan level competitiveness. Revolusi Industri ke-4 sudah di depan mata, mengadopsi kemajuan teknologi adalah salah satu cara untuk menghalau kompetitor.

4. Bagaimana mengantisipasi gaya hidup sehat, yang mungkin bisa saja sewaktu-waktu masuk ke pasar mainstream di Indonesia. Teman-teman kelas Yoga saat ini aktif mengedukasi "gluten-free foods", diet ala Food Combining, Keto, dll. akan menjadi ancaman tidak langsung untuk pemain di industri fast-food. Kesuksesan beberapa pemain lokal yang menawarkan menu lebih sehat seperti HONU dan TRF Catering, patut juga diwaspadai pergerakannya.


Salam Brand.




You Might Also Like

0 comments