Personal Branding: is it (still) relevant now???

3:11 AM

Saat membaca salah satu artikel mengenai personal branding di majalah The Fast Company, saya merasa "tertampar", karena banyak hal yang mungkin ada benarnya kalau kita berpikir 3 - 4 level lebih dalam.


1. Perkembangan Karir

Riset Harvard Business Review mengatakan bahwa karir orang-orang yang termasuk dalam Generasi X/Gen-X (mereka yang lahir antara tahun 1961 - 1981) mengalami sedikit set back/kemunduran dibandingkan dengan anak-anak generasi millenial (lahir antara tahun 1981 - 1994). Di penghujung masa keemasan Gen X, justru saat ini banyak perusahaan, terutama perusahaan baru dan start up (perusahaan rintisan), yang mengganggap pengalaman kerja puluhan tahun sudah tidak terlalu penting.

Bahkan, Nadiem Makarim, ex CEO Gojek, dalam salah satu video interviewnya, jauh sebelum dilantik menjadi Mendikbud mengatakan bahwa; di dunia yang serba cepat seperti saat ini:

"It's important to understand and not to believe too much in what you think you know. Instead trust the number, trust the data and hyperexperiment the hell out of everything you do. 

Jadi anak-anak muda sekarang lebih mengandalkan knowledge (pengetahuan) dan super fast action (implementasi super cepat) dibandingkan experience (pengalaman).





2. Lihat lagi konsep "Personal Branding"

Ada yang beranggapan Brand ada sebuah hal yang "souless" (tidak bernyawa), penuh jargon korporasi, dan tidak real. Dari sisi pribadi, saya setengah setuju dan setengah tidak setuju dengan hal tersebut. Setengah setuju, karena memang brand bukan "makhluk hidup", justru tugas pemilik brand untuk menjadikannya "hidup" atau syukur-syukur menjadi "makhluk hidup", dan juga setengah tidak setuju dengan pernyataan tersebut seolah-olah brand adalah konsep yang "haram" tidak bisa diadopsi untuk meningkatkan value personal.

Padahal, ada banyak hal yang bisa dipetik dan dipelajari dari konsep brand yang bisa digunakan oleh individu - misalnya value proposition, struktur value yang akan dibangun, dll. Kalau bahasa kasarnya: ilmu yang menjadikan barang mati menjadi manusia hidup, tentu akan lebih dahsyat kalau manusia hidup bisa dijadikan manusia super.

Selain itu effort untuk membangun personal branding (individual) juga tentu lebih cepat dibandingkan effort korporasi membangun dirinya yang melibatkan ratusan bahakn ribuan orang.


3. Authenticity (ke-Otentik-an)


Konsep alternatif ini disarikan dari filosofi Plato, seorang filsuf Yunani yang mungkin terlalu njlimet kalau dijelaskan semua filosifnya di sini. Pada intinya sebagai manusia, nilai-nilai yang otentik, kejujuran, keikhlasan, adab, etika, dll mungkin akan menjadi approach/pendekatan yang lebih logis/masuk akal dibandingkan konsep brand korporasi yang dipaksakan untuk mengkomunikasikan manusia. Karena jika brand mungkin terbatas lingkupnya sebagai organisasi/korporasi yang kaku dan monolitik, maka personal/individu mungki bisa jauh lebih kompleks: di satu saat bisa sebagai Ayah, Pemimpin, di saat yang lain bisa menjadi Ketua RT, Presiden, Menteri, ataupun kadang sebagai hanya seorang tetangga yang baik.





Keempat konsep pendekatan alternatif di atas, bisa digunakan untuk menaikkan level kompetensi dan brand personal. Dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi (high level of confidence) untuk mengkomunikasikan siapa kita, nilai apa yang kita percaya, apa kekuatan dan kelebihan kita dibandingkan orang lain, sangatlah penting dan liberating (terasa membebaskan).


ETHOS
Ethos adalah pencapaian, track record, reputasi, pengetahuan dan kredibilitas. Tidak semua orang memiliki skor yang sama untuk hal-hal tersebut di atas, jadi parameter yang digunakan memang sedikit berbeda dengan perusahaan (korporasi) yang menggunakan brand value, customer relationship, ROI, profitability, dll karena memang individu tidak terkait langsung dengan hitungan laba rugi di badan dan nilai-nilai (values) yang mereka bawa.

Sukses bisa saja bermula dari kemampuan individu untuk mengkomunikasikan ethos mereka. Misalnya kemampuan mempresentasikan ide-ide bisnis yang dirintis, kemampuan mempromosikan skills dan knowledge kepada perusahaan yang ingin merekrut, atau untuk yang self-employed mengkomunikasikan expertise dan quality yang mereka miliki.

Jadi pendekatan alternatif ini, mungkin lebih bisa mudah dipahami dan dipraktekan oleh individu-individu yang ingin mengkomunikasikan "value-value, skills, experience, expertise, dll." jika dirasa ilmu Personal Branding masih terlihat "membingungkan".


Ada beberapa hal mendasar ketika kita akan mulai membangun personal branding:

1. Apa tujuannya (Goals)?

Goals setiap orang akan berbeda-beda, ada yang ingin naik jabatan, ada yang ingin bisnisnya semakin maju, ada yang ingin menjadi kepala daerah yang sukses, dll. Semua usaha dan ikhtiar yang dilakukan akan berlandaskan pada tujuan utama mengapa aktifitas membangun personal branding perlu dibuat.


2. Siapa target audience (orang yang dituju)?

Setiap proses membangun personal branding tentu mempertimbangkan siapa yang dituju, misalnya si A karyawan sebuah perusahaan online, ingin naik jabatan menjadi director, tentu harus memberikan impresi yang kuat kepada pemilik perusahaan dan rekan kerja bahwa dia kompeten. Cara yang bisa dilakukan misalnya mengambil kursus singkat eksekutif di Harvard University, atau membangun jaringan yang luas dengan asosiasi profesional, dll.


3. Solusi apa yang bisa ditawarkan oleh personal brand yang akan kita bangun?

Misalnya saat ini sedang ramai bisnis online, mempositioningkan diri sebagai ahli di bidang digital marketing yang bisa meroketkan penjualan melalui semau channel digital tentu akan menjadi sebuah solusi yang dicari banyak orang.


4. Differensiasi, atau hal apa yang membuatnya personal brandmu berbeda dengan orang lain?

Di dunia yang kompetisinya semakin keras seperti saat ini, perlu ada faktor X yang membedakan diri kita dengan orang lain. Misalnya, si A expert di bidang keuangan, yang membedakan dengan pakar keuangan yang lain adalah si A mampu memberikan profit yang bagus dengan analisa yang lengkap dan hasil yang cepat. Kalau pengusaha atau entrepreneur bisa melihat bagaimana Richard Branson, Erick Thohir, atau Nadiem Makarim membangun bisnisnya dan berbeda dengan pengusaha lainnya. Setiap individu pasti memiliki bakat unik yang tak dimiliki oleh orang kebanyakan.

5. Apa yang dikatakan orang lain mengenai dirimu?

Menurut Gary Vaynerchuck (pembicara publik, best seller, yang tinggal di New York), "Your Personal Brand is your reputation. And your reputation in perpetuity is the foundation of your career." Selalu hadirkan aura positif sehingga orang lain akan memberikan penilaian yang positif mengenai dirimu, dan reputasi akan terbangun dari nilai-nilai positif yang kita bangun.


Salam.


You Might Also Like

0 comments