Sunday, March 18, 2018

TRANSISI


Transisi atau transition, definisi menurut Oxford Dictionary adalah periode peralihan dari satu kondisi ke kondisi yang lain. Periode ini adalah masa yang paling tidak mengenakkan, karena ada banyak faktor yang tidak disukai oleh manusia pada umumnya yang lebih suka dengan kondisi yang stabil tanpa gejolak (risk averse).

Jika kita melihat ke dunia politik, peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru (sekitar tahun 1965-1967)  sungguh sangat dramatis, mencekam dan mengorbankan nyawa yang begitu banyak. Begitu juga dengan periode besar setelahnya, seperti tahun 1998-1999 saat peralihan dari jaman Soeharto ke jaman Reformasi. Contoh lainnya, di kehidupan seorang profesional, pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain juga akan membutuhkan sebuah transisi yang tidak mudah: ada yang selamat melewatinya, ada juga yang tidak tahan dan tidak lama kemudian memutuskan untuk resign.

Di dunia bisnis, hal inilah yang terjadi sekarang, bagi generasi yang lahir sekitar tahun 1965 -  awal 1980-an (mulai Generasi Late Baby Boomers (1960-1965), Gen X (1966 - 1976), awal Gen Y atau sering disebut Generasi Millenials awal yang bukan lahir di tahun 1990-an (1977 - 1982), mereka melewati apa yang disebut masa offline kemudian ke online/robotic era. Bagi yang lahir di era tersebut, awal perkenalan dengan teknologi diawali dari permainan gamewatch seperti Submarine Battle dan Western Bar, telepon pun masih menggunakan telepon koin, kemudian meningkat ke era Motorola pager (radio panggil berbentuk pesan), berlanjut menggunakan handphone analog berbentuk besar seperti batu bata (Motorola MicroTAC): ketika jaman SMA sekitar tahun 1990-an (zamannya Dilan), kami teringat saat Papa membawa pulang handphone tersebut dan semua terpana melihatnya.


(Foto: Casio Gamewatch - permainan game small screen 90-an produksi Casio, Japan)

Generasi ini kemudian dipaksa lagi untuk segera beradaptasi ke era keemasan Nokia dengan Nokia 3310 dan Nokia Pisang (Nokia 8110), suatu masa ketika handphone tersebut menjadi cameo utama di film Matrix (tahun 1999 menjadi box office di Indonesia). Tak menunggu lama, awal sampai menjelang akhir 2000-an generasi ini dipaksa lagi untuk beradaptasi dengan masa keemasan Blackberry (mulai Blackberry Torch, Bold, Curve, dll.), dimana saat itu jika tidak memiliki PIN Blackberry, kita dianggap manusia kuno banget atau kurang gaul. Ketika baru bisa sedikit bernafas, generasi ini dipaksa lagi beradaptasi dengan iPhone, App Store dan Android yang dirilis Apple dan Google (iPhone dirilis Apple pertama kalinya tahun 2007).

(Foto: Motorola Pager - alat penerima pesan seperti SMS, kita mengirimkan pesan dengan cara menelpon dahulu ke operator, nanti operator yang akan mengetik pesan untuk dikirimkan)


(Foto: Motorola MicroTAC - handphone analog beredar terbatas di kalangan pebisnis di tahun 90-an, layar hanya 2 warna/monokrom)

(Foto: Blackberry - awal 2000-an sangat populer di Indonesia, jika kita tidak memiliki PIN Blackberry bsia dianggap manusia kurang gaul dan kuno, perasaan bangga memiliki PIN BB dan Blackberry Messenger (BBM) ini yang menyebabkan Blackberry menjadi viral dan populer di Indonesia)


Ketika sudah memasuki dunia profesional dan bisnis, generasi ini dipaksa terus beradaptasi dengan landscape bisnis yang sangat cepat berubah. Di awal tahun 2000-an, teman-teman jurnalis di media cetak masih mengalami masa-masa kejayaannya, kalau kita melihat di toko buku atau lapak koran, sangat banyak judul majalah otomotif, sports dan lifestyle yang beredar di Indonesia. Namun saat ini, hanya tinggal sedikit media cetak konvensional yang mampu bertahan, grup besar seperti Gramedia/MRA pun juga terpaksa menutup sebagian besar majalah cetak yang dimilikinya. Hal ini membuat teman-teman jurnalis dipaksa atau terpaksa beralih profesi menjadi media online/menulis blog/youtube: sebuah transisi yang tidak mudah.

(Foto: Media cetak 2 dekade sampai 5 tahun yang lalu masih sangat dominan di Indonesia, sejak kehadiran berita online seperti detik.com, iPhone dengan App Store, Android - Playstore Book, dll. keberadaan mereka tergerus dengan cepat.)


Hal ini juga terjadi dengan rekan-rekan lain yang berbisnis sebagai travel agent, fashion, retail, dll. Meskipun sudah ditempa dengan berbagai perubahan sejak tahun 1980-an sampai sekarang, namun transisi ini tetap saja akan membuat shock mereka, banyak yang sudah gulung tikar.



Tidak lama lagi, akan ada banyak lagi sektor industri yang akan tergerus oleh kecepatan perubahan zaman. Baru-baru ini ada proses pembuatan burger pun sudah bisa dilakukan oleh Robot, pola baju sudah bisa dibuat oleh robot dan di potong secara otomatis, mobil akan beralih ke full elektrik dan tidak perlu sopir ke depannya (driverless), semua berjalan otomatis.

Bahkan, Ulama seperti Prof. Nadirsyah Hosen (Dosen tetap di Fakultas Hukum, Monash University, Melbourne, Australia), sudah lama menyadari kecepatan perubahan jaman ini: beliau mengamati banyak anak muda, terutama yang tinggal di kota-kota besar, yang tidak memiliki banyak waktu untuk belajar agama di pesantren, mereka bisa mengaji dimana saja dengan cara mengakses tulisan beliau -- via online -- dengan gadget di tangan mereka. Salah satu buku yang menarik perhatian adalah "Tafsir Al-Quran di Media Sosial."

(Foto: Buku Karya Prof. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD.)


(Foto: Driverless Car Concept - Volkswagen AG.)



Mau tidak mau, menghadapi perubahan yang begitu cepat, adaptasi pun harus dilakukan lebih cepat (dengan kecepatan cahaya kalau perlu), ada yang sudah mampu mengatasinya, tetapi ada juga yang masih terjebak nostalgia dan sulit untuk berubah:

1. Pilih profesi yang tidak mudah digantikan oleh Robot.
Profesi seperti artis, fashion designer, seniman, graphic designer, tidak mudah untuk digantikan oleh robot dalam waktu dekat. Meskipun Motoman atau Google Pixel sudah mampu menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk membuat masakan atau foto yang bagus, namun tentu saja kreatifitas pembuat masakan/foto masih sulit digantikan oleh robot/AI.

(Foto: Fourth Industrial Revolution.)

(Foto: Future Jobs in Fourth Industrial Revolution.)


(Foto: Motoman SDA10- RoboChef)

2. Cepat membaca data pasar dan jeli melihat peluang.
Pasar yang dinamis juga harus disikapi dengan cepat, banyak loophole (peluang) yang bisa diindetifikasi dan dimanfaatkan untuk merubahan arah bisnis dengan cepat. Seperti preferensi konsumen Indonesia untuk travelling dan upload ke media sosial, bisa dimanfaatkan oleh para pelaku Industri. 



                                                   (Foto: Data BEKRAF - Subsektor Ekonomi Kreatif)

3. Berkolaborasi (Lintas Generasi dan Lintas Profesi).
Seperti contoh kasus rekan-rekan jurnalis yang tergusur media online, jika bersatu dan membuat satu media yang solid, mungkin peluang untuk bertahan akan lebih besar peluangnya. Lintas Profesi (Seperti bekerjasama dengan rekan lain yang melek teknologi atau digital marketer plus pemodal yang mau mendukung). Lintas Generasi, seperti contoh Gen X bergabung dengan Gen Millenials yang lebih melek teknologi untuk beradaptasi dengan pasar).

Masih banyak kiat yang bisa dilakukan oleh anak muda jaman Now untuk menghadapi perubahan jaman yang semakin cepat dan sulit diprediksi, berpikirlah dengan kreatif dan beradaptasi dengan kecepatan cahaya.
  




No comments:

Post a Comment