Monday, August 28, 2017

Belajar dari Game of thrones and Business Strategy Part.1



Jika Anda penggemar serial TV paling sukses di jaringan TV Kabel HBO, "Game of Thrones", tentu akan sangat akrab dengan skema & strategi saling klaim tahta kerajaan (Iron Throne) di Westeros. Plot-plot mengerikan dari Lord Petyr Baelish, strategi perang yang cerdas Tyrion Lannister, strategi perang ala Battle of Canae (Perang antara Pasukan Romawi melawan pasukan Hannibal) di episode Bastard War, dan banyak plot-plot rumit lainnya bisa dinikmati di serial TV tersebut.


Di dunia bisnis dan marketing, plot-plot dan strategi seperti di atas banyak terjadi di dunia nyata. Di Indonesia, baru-baru ini para pedagang di Glodok yang dikenal sebagai pusat elektronik Indonesia, mengeluh karena toko mereka semakin sepi . Dari analisa sederhana mereka,  faktor utamanya karena terkepung oleh strategi bisnis para peritel elektronik online yang agresif (seperti Lazada, blibli.com, atau tokopedia atau toko online lainnya) yang lebih nyaman dan memudahkan customer untuk bertransaksi tanpa harus repot-repot menyetir mobil dan bermacet ria ke arah Glodok.

Demikian juga dengan bank-bank konvensional, mereka juga harus bergerak cepat sebelum digerus oleh startup-startup baru berbasiskan fintech menggunakan strategi yang agresif menyasar kaum muda yang melek internet, dimana generasi milenial (kira-kira lahir antara 1977 - 1994) dan gen Z (kira-kira lahir antara 1995 - 2012), yang lebih menyukai bertransaksi dengan  smartphone mereka dibandingkan dengan harus datang secara fisik ke kantor cabang bank. Bahkan fitur seperti Go-Pay (sistem pembayaran di dalam aplikasi GoJek) dalam waktu singkat, sampai dengan akhir tahun lalu, bisa mendapatkan 25 juta pelanggan baru yang melakukan transaksi keuangan melalui aplikasi tersebut (bahkan bisa transfer antar rekening GoPay).

Kedatangan pemain-pemain baru di dunia bisnis dengan strategi disruptif ini, seperti kedatangan Night King dengan pasukan Dead Army, memutar-balikkan papan permainan dengan hal yang tak disangka-sangka. Di Game of Thrones (GoT), Night King ini adalah raja kaum zombie (mayat hidup) yang pelan-pelan membangun kekuatannya di wilayah utara negeri Westeros yang sangat dingin dan bersalju untuk menaklukkan dunia orang yang "hidup dan bernafas" yang hidup di kawasan selatan dengan iklim yang lebih hangat.  Ketika kaum seperti House of Lannister, House of Targaryen, House of Stark  sibuk bertikai dan saling bunuh antar mereka sendiri, tiba-tiba dikejutkan oleh lawan yang tidak disangka-sangka -- pasukan mayat hidup: yang tidak bisa dibunuh dengan pedang biasa, jumlahnya ratusan ribu, dan mereka siap menerjang maju memangsa semua makhluk hidup yang ada di hadapannya. Tiba-tiba keselamatan dan kenyamanan hidup mereka terancam musnah.




Pengalaman pahit mantan raksasa dunia seperti Blackberry dan Nokia, dijungkalkan dengan telak oleh Apple iPhone, ataupun pemain-pemain otomotif raksasa seperti BMW, Mercedes, Volkswagen, GM, Ford, Toyota, yang terbelalak melihat progres cepat Tesla dengan mobil listriknya, membuat kemampuan para pebisnis melihat, mengantisipasi dan menyikapi dengan super serius akan masa depannya menjadi super penting.

Jangan lengah, stay humble and stay foolish.

Wednesday, March 22, 2017

Transformasi brick-and-mortar to online



Interview Doug McMillon di Harvard Business Review edisi Maret 2017 sangat menarik, tema yang dibicarakan adalah bagaimana raksasa retail sekelas Wal Mart melakukan transformasi di era digital.

Ini juga pas dengan tema “Customer Shifting Powers - The Producers & Customers Collaboration”, acara MIST (Marketing Insight Seminar & Training) FEBUI (Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI) beberapa minggu yang lalu, yang kebetulan meminta saya untuk menjadi mentor bagi adik-adik mahasiswa dari berbagai universitas: ada yang dari Universitas Indonesia, UPH, Unibraw, UGM, dll. Serta juga sangat relevan bagi pemain startup di industri fashion maupun industri lainnya yang masih mengandalkan toko fisik dan ingin berubah menjadi pemain online.

Satu hal yang di singgung oleh McMillon adalah: sekitar tahun 1908 Sears Roebuck merevolusi dunia retail dengan mengkombinasikan bisnis katalog dan physical store melalui product assortment, value,  dan service, serta pengiriman melalui jaringan kereta yang saat itu baru mulai eksis di Amerika. Wal Mart sendiri juga menjadi raksasa di Amerika, saat ini memiliki total 4.600 toko serta hadir di 28 negara di dunia, dengan menggunakan data consumer analytic yang sangat kompleks serta pressure kepada supplier-suppliernya. Datangnya Amazon, yang merevolusi dunia retail dengan digital assortment, supply chain yang kuat dan pengiriman kilat merubah permainan di industri retail.

Jika Wal Mart tidak bergerak cepat, maka bisnis retail model brick-and-mortar yang mengandalkan toko fisik saja akan semakin ketinggalan dari pesaing-pesaingnya yang ganas di dunia digital. Tahun 2014 saja Amazon.com sudah memiliki sekitar 244 juta member, Wal Mart sendiri saat terjun ke bisnis e-commerce mencatatkan pertumbuhan sebesar 12% dengan penjualan USD 13.7 milyar, bandingkan dengan Amazon.com yang mencatat penjualan sebesar USD 135.98 milyar di tahun 2016.

Image: Area fulfilment Amazon.com

Salah satu langkah menarik yang dilakukan Wal Mart adalah mengakuisisi Jet.com, sebuah start up digital dan mempelajari dengan cepat cara Jet.com melayani pelanggannya. Dengan smart basket programfee-based membership, dan algorithm khusus untuk harga, mereka percaya jika customer diberikan service dan harga terbaik, mereka akan rela sedikit menunggu, dan bersedia menjadi member tanpa harus embel-embel free shipping atau fast shipping.  

Tentu saja itu hanya salah satu langkah raksasa ini ingin memasuki dengan cepat dunia digital.  Selain itu, masih banyak juga customer yagn tidak hanya ingin berbelanja online, tapi juga ingin merasakan pengalaman fisik dan "bertamasya" di supermarket. Kombinasi e-commerce yang kuat dengan "pengalaman yang tak terlupakan" di store, akan menjadi kombinasi strategi marketing yang sangat ampuh.



Strategi lain yang bisa dipelajari dan diadopsi bagaimana pengalaman industri airline dan kartu kredit. Jika hanya bersaing harga, tentu Amazon atau online travel agent akan dengan mudah memenangkan persaingan.


Namun program “Frequent Flyers” bisa merubah peta persaingan di antara mereka. Kenyataannya,  ternyata masih sangat banyak customer yang rela mengorbankan convenient dan harga lebih murah – demi mendapatkan “rewards points” dari airline tersebut. Jika konsep ini dibawa ke dunia retail, loyalty program ini bisa meyakinkan pelanggan setia Wal Mart atau pelaku retail tradisional lainnya untuk menghindari ancaman pemain e-commerce yang agresif. Hal ini juga bisa diterapkan bagi brand-brand retail di Indonesia, yang sedang menghadapi ancaman pemain retail global.



Salam.

Saturday, February 18, 2017

CSR Event Bandung


Baru-baru ini UNIQLO membuat sebuah event CSR di Bandung, yang disasar dan ingin dibantu adalah murid-murid SMK yang mungkin saat ini sedang bingung atau galau dalam membuat rencana karir mereka di masa depan. Dengan presentasi yang dilakukan di ruang kelas dari tim HR, marketing, dan produksi diharapkan mereka bisa mendapatkan tips-tips sukses di karir mereka selanjutnya.

Pada saat sesi Marketing, beberapa siswa-siswi yang ditanya mengenai apa itu marketing, sebagian besar menjawab Marketing adalah 4P: Product, Price, Promotion and Place. Mungkin kita tidak bisa menyalahkan mereka jika pengetahuan anak-anak SMK itu hanya sebatas itu. Jika melihat kondisi sekolahnya maka kita memaklumi, karena tidak banyak buku-buku marketing yang terlihat selain mungkin text book (bacaan wajib) sekolah, ataupun mereka kemungkinan malu atau grogi ketika saat ditanya.

Yang lebih parah adalah, pada saat ditanya apa beda Marketing dan Sales, jawaban mereka seperti dunia yang dibolak-balik karena pengertiannya benar-benar tumpang tindih. Kita juga tidak bisa menyalahkan mereka dalam hal ini, karena di dunia nyata, para profesional banyak yang abused atau menyalah gunakan istilah tersebut: orang sales bisa dianggap marketing dan begitu juga sebaliknya. Contohnya, coba perhatikan para sales kartu kredit atau sales properti/rumah, mungkin karena takut mendapatkan stigma (cap) negatif dan supaya calon customer/prospek tidak kabur karena takut di todong untuk membeli produk kartu kredit, mereka menyebutkan diri mereka adalah marketing kartu kredit, bukan sales kartu kredit.

Namun, kembali ke tips sukses untuk anak-anak SMK yang ingin berkarir di dunia marketing, mungkin image/gambar infografis di bawah ini masih sangat relevan, karena tidak banyak yang menyadari marketer/seorang yang profesional dan berkecimpung di dunia marketing yang sukses itu harus jago/ahli dalam analisis dan juga harus mampu berpikir kreatif:



Sisi sebagai ilmuwan/scientis:
Sebagai scientist/ilmuwan yang dominan menggunakan otak kiri untuk analisa, seorang marketing dituntut untuk mampu membuat rencana, analisa kekuatan perusahaan dan kekuatan lawan, membaca data ekonomi, membaca data statistik, dan harus mengerti riset pemasaran, serta tak kalah pentingnya bisa membuat laporan marketing yang profesional.


Sebagai seorang artist:
Harus mampu berpikir kreatif, membuat iklan yang menarik, mampu berpikir secara visual untuk label produk yang baik, mencari terobosan-terobosan dengan budget/keuangan yang tersedia.

Sebuah kualifikasi yang cukup berat, karena tidak banyak orang yang mampu memiliki kedua hal tersebut. Sebagian dominan menggunakan otak kiri: untuk hitungan, matematika, tapi lemah di dalam hal kreatif.  Atau sebaliknya, sangat kreatif dan dominana menggunakan otak kanan, namun lemah dalam hal hitungan, membuat analisa, dll.


Dan bagi anak-anak SMK yang kebetulan membaca artikel ini, tipsnya cuma satu, ilmu Marketing berkembang sangat pesat, bacalah minimal 1 buku Marketing atau majalah marketing setiap minggu, atau buka situs-situs seperti di bawah ini:

- Marketeers.com (majalah marketing, grup MarkPlus)
- fastcompany.com
- marketing.co.id (majalah marketing, Indonesia)
- wired.com (digital)
- adfreak.com (periklanan)
- theverge.com
- socialmediatoday.com (social media)

Sebagai penutup artikel ini, seharusnya para profesional marketing bisa meluangkan waktunya untuk memberikan input bagi kurikulum marketing yang lebih update tetapi mudah dipahami bagi murid-murid sekolah menengah ke dinas pendidikan atau akan lebih bagus lagi jika ada gerakan mengajar Marketing bagi anak-anak tersebut.