Sunday, April 12, 2015

Ekonomi Kreatif: Case Study Game of Thrones




Kota Seville dan Osuna di Spanyol baru-baru ini menikmati kenaikan kunjungan turis yang signifikan, 2 kota di wilayah otonomi Andalusia ini memang sangat eksotis dengan istana dan benteng indah peninggalan bangsa Moor dengan aksitektur Islam bergaya campuran Afrika dan Timur Tengah tetapi dengan influence Gothic (Mudéjar style). Sebagai sedikit kilas balik sejarah, Bangsa Moor aslinya kaum Muslim yang berasal dari Afrika Utara (Dinasti Umaiyah) yang pernah menjejakkan kakinya di Eropa  di sekitar wilayah Andalusia (Spanyol dan Portugal) mulai tahun 712 dan berakhir setelah era Spanish Reconquista oleh King Ferdinand III of Castile tahun 1248.

Ternyata shooting season ke-5 serial “Game of Thrones” yang diproduksi HBO di kota Seville dan Osuna menjadi daya tarik turis yang luar biasa. Serial berlatar belakang abad pertengahan yang ditonton sekitar 18.4 juta pasang mata di Amerika saja tahun lalu (belum termasuk negara lain), membuat para penggemarnya berduyun-duyun mengunjungi set lokasi yang tersebar mulai dari Sevilla, Irlandia Utara, Islandia, sampai Kroasia.

Menurut duta besar Amerika untuk Spanyol, James Costos, yang ternyata mantan produser HBO, Seville menikmati kenaikan jumlah turis sebanyak 15% hanya setelah seminggu setelah shooting serial sukses tersebut dimulai. Kota Osuna bahkan menikmati kenaikan kunjungan wisatawan yang lebih tinggi, kira-kira 30% di bulan September  Hal ini sangat membantu ekonomi Spanyol wilayah selatan yang sedang terpuruk dengan tingkat pengangguran sebesar 34.7%.  Audisi untuk serial TV tersebut berhasil menarik 86,000 orang untuk mendaftar, dan kira-kira 550 figuran diperkerjakan dalam film tersebut dan dengan masing-masing memperoleh upah rata-rata 50 Euro per hari.

Triawan Munaf,, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Nasional, pernah mengatakan bahwa film/TV Series memang memiliki multiplier effect terhadap beberapa sektor sekaligus. Film bisa menjadi lokomotif dan menarik gerbong subsektor fashion, kuliner, musik, dan aplikasi komputer (desain grafis dan visual effect). Film Lord of the Rings berhasil membawa Selandia Baru menikmati booming kunjungan wisatawan setelah film tersebut menjadi promosi luar biasa bagi pariwisata negara dengan alamnya yang luar biasa indah. Sampai sekarang, jika tidak mengunjungi tempat tinggal kaum Hobit yang memang dipermanenkan rasanya kurang lengkap kunjungan kita ke negara tengah-tengah di samudra pasifik selatan ini.



Pengalaman yang sama juga dinikmati oleh Bangka Belitung setelah film Laskar Pelangi meledak dan membuat kunjungan ke pulau yang terletak dekat dengan pulau Sumatera ini meningkat pesat. Menurut Ibu Mari Elka Pangestu, mantan menteri Ekonomi Kreatif di jaman Presiden SBY, efek film Laskar Pelangi membuat kunjungan turis meledak sampai dengan 1.800%. Sebuah angka yang tidak mudah dicapai dengan marketing yang konvensional. Belajar dari kesuksesan film yang berkisah tentang petualangan anak-anak Bangka Belitung, jika berbicara dalam skala nasional kita memerlukan sebuah film berskala global yang mampu menarik wisatawan dunia ke semua wilayah di Indonesia. Film Eat, Pray and Love termasuk salah satu yang sukses membuat pariwisata Bali kembali booming – kunjungan turis meningkat jutaan orang dalams etahun, sebuah berkah setelah pulau ini diterpa kasus Bom Bali.






Shooting TV Series Game of Thrones membuat dua kota Seville dan Osuna di Spanyol menjadi terkenal, New Zealand menikmati sukses pariwisata yang luar biasa dari film Lord of the Rings, film James Bond “The Man with the Golden Gun” membuat Phi-Phi Island di Thailand menjadi terkenal di seluruh dunia, sekarang tugas kita mencari peluang dari sebuah film berkelas dunia yang bisa membuat tourism Indonesia meledak, bukan hanya Bali tapi bisa beberapa wilayah sekaligus di Indonesia.

Kita harus waspada terhadap usaha Malaysia, yang berhasil mengundang Pinewoods Studio untuk membuka lokasi shooting di wilayah Johor, serta berhasil membuat Imagica (perusahaan postproduction asal Jepang) untuk membuka kantornya di sana. Meskipun kita memiliki Infinite Studio yang selama 10 tahun ini sukses membuat animasi untuk film berkelas dunia seperti Harry Potter, namun kita butuh sebuah hits movie yang mampu mengangkat wisata di beberapa daerah sekaligus.