Friday, October 3, 2014

Behind the fashion's glamour world Part I


                    Fashion show yang glamor, dengan model-model yang sangat cantik seperti Miranda Kerr atau Gisele Bundchen, baju-baju yang sangat rapi, hiburan yang luar biasa, fashion desainer yang tampak wah dan lain lain adalah image yang mungkin terekam di sebagian benak orang ketika mereka melihat dunia fashion. Jendela dunia fashion ini yang membuat industri yang bernilai triliunan ini tetap berdenyut dan memberi makan dan kehidupan bagi banyak orang yang terlibat di dalamnya. Mulai dari level bawah seperti di pasar tanah abang, thamrin city, blok M sampai ke butik-butik berkelas di Plaza Senayan, Orchard Road, High Street di London, Paris, New York, dan butik-butik online yang tak kalah agresif memberondong kita dengan penawaran menarik setiap hari.

                     Di balik itu, dibutuhkan kerja keras supaya semua tetap berjalan dengan smooth mulai planning, desain, produksi, marketing, sales, customer service sampai barang di retail store dibeli oleh customer. Retail dan fashion business adalah dunia yang sangat cepat dan membutuhkan management yang kuat untuk menghandle day-to-day yang sangat kompetitif. Apalagi trend fashion bisa berlalu dengan cepat, kesalahan dalam membaca arah pasar akan membuat inventory menumpuk di gudang dan menggangu cash flow perusahaan. Retail besar seperti Zara (Inditex) memiliki solusi yang unik untuk mengantisipasi trend yang cepat berubah, mereka membeli raw material dalam kondisi warna basic seperti putih. Ketika selera pasar berubah, maka mereka tinggal mengganti warna atau print motif dengan cepat, tanpa berjudi dengan kain motif yang mungkin terlanjur diproduksi. Untuk retail besar seperti Zara yang memiliki ribuan toko di seluruh dunia (2,026 di bulan Juli 2014), ini adalah salah satu risk management yang memang harus mereka lakukan.



                          Retailer di Indonesia menggunakan strategi yang berbeda, barang yang sudah out-of-fashion akan disale besar-besaran atau dilempar ke luar pulau Jawa. Namun tentu saja strategi ini kurang efisien karena jelas akan mengurangi margin keuntungan untuk perusahaan. Jika margin yang dimiliki cukup tentu tidak akan menjadi masalah, tetapi ketika margin yang didapat tipis, maka bisa menjadi bencana bagi keuangan. Hal inilah yang membuat Matahari group selain mengambil barang dari merek ternama juga memproduksi label mereka sendiri, karena tentu saja  profit margin dan speed to market yang tidak bisa ditandingi.

                          Strategi untuk bertahan di pasar dan menjadi pemenang sangatlah banyak, di postingan berikutnya akan kita kupas satu persatu lebih dalam. Masing-masing pilihan memiliki risiko dan peluang yang berbeda, tergantung dari bagaimana kemampuan meliuk-liuk di pasar dalam mengalahkan kompetitor dan menarik hati konsumen.


Salam.                                          

No comments:

Post a Comment