Friday, July 11, 2014

Catatan Pilpres 2014: Jadikan pesta demokrasi yang damai.



Definisi Politik menurut Merriam-Webster adalah "showing good judgment especially in dealing with other people" dan menurut wikipedia adalah "the practice and theory of influencing other people on a civic or individual level". Namun tulisan kali ini akan lebih banyak membahas dari sisi marketing dan komunikasi masing-masing calon Presiden Republik Indonesia.


Catatan 1:
Brand Values masing-masing calon.

Pesta demokrasi 5 tahunan dalam pemilihan presiden, sangatlah menarik dalam hal: bagaimana tim kampanye masing-masing capres "menjual" gagasan/ide untuk berbagai macam profil rakyat. Sebenarnya bagi marketer hal ini adalah mimpi buruk, karena target yang dituju sangat luas dan beragam. Namun tetap ada sisi lain yang masih bisa dilakukan untuk menjual masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Jokowi menjual ide tentang kesederhanaan, proses eksekusi ide yang cepat -- yang telah dibuktikan selama menjabat sebagai walikota Solo dan menjadi Gubernur DKI, serta kemampuannya untuk memangkas birokrasi menjadi lebih cepat dan efisien. Tagline Jokowi adalah Kita sangat tepat menggambarkan sosok sederhana ini, dan sangat kena di hati sebagian besar penduduk Indonesia yang berasal dari kaum miskin serta menengah ke bawah, juga kaum menengah ke atas yang bosan dengan kaum elite yang penuh dengan retorika.

Sedangkan Prabowo menjual ide tentang profil gagah seorang mantan jenderal militer, berasal dari kaum ningrat, gagah, tegas, dan berwibawa. Dan terbukti memang sebagian besar penggemar Prabowo berasal dari keluarga militer, atau dari keluarga non-militer yang mendambakan sosok tegas dan gagah yang memimpin Indonesia. Prabowo menjadi antitesis dari sosok Jokowi yang kalem.

Dua calon yang bertolak belakang ini membuat Indonesia seolah-olah terbelah menjadi dua bagian.


Catatan 2:
Dua konsep komunikasi yang sangat kontras.

Melihat basic dua kandidat yang sangat berbeda, sisi komunikasi yang dibangun menjadi sangat jelas. Tidak ada differensiasi khusus yang harus dibangun oleh masing-masing calon, karena sejatinya differensiasi kedua pasangan calon sangatlah jelas terlihat. Bagi marketer yang memasarkan pasangan capres-cawapres tersebut, paling tidak berkurang satu pekerjaan mereka.

Nah, pertanyaannya bagaimana mengorganisasi begitu banyak relawan, konsultan politik, konsultan survei, konsultan marketing, konsultan PR dan tim sukses yang begitu banyak?

Lagi-lagi kedua calon menunjukkan dua pola yang sangat berbeda: Prabowo menggunakan pola khas militer, top down approach, semua terkomando dari atas. Mulai seragam, komunikasi, iklan, dan pergerakan tim sukses harus melalui persetujuan mantan Komandan Jenderal Kopassus ini. Bahkan konon semua yang diposting di facebook Prabowo Subianto Djojohadikusumo harus mendapatkan persetujuan khusus dari sang putera Begawan Ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo.

Sedangkan Jokowi, menggunakan approach yang berbeda yang sangat khas Jokowi: bottom up approach. Tidak terlihat komando yang dipaksakan dari atas, justru banyak inisiatif yang muncul dari bawah, seperti contoh konser di GBK Senayan yang melibatkan 200 artis terkemuka Indonesia, diinisiasi oleh relawan-relawan dan artis-artis itu sendiri. Praktis Jokowi dan tim sukses tidak terlalu banyak ikut campur dalam pelaksanaan acara, dan hanya mendukung dari belakang. Begitu juga dengan banyak kegiatan lain di daerah yang didorong oleh para sukarelawan seperti Kawan Jokowi, Bara Jokowi, Gerak Cepat, dan relawan-relawan lainnya. Ini belum termasuk relawan yang bergerilya di dunia maya seperti Jasmev dll. Maka jangan heran jika banyak sekali hashtag-hashtag yang berseliweran mulai #salamduajari #JKW4P #JokowiDay #Rame2Celup2Jari dll. Konsep pembukaan rekening sumbangan, meskipun ini belum tahu alasan sebenarnya kenapa membuka rekening sumbangan tersebut untuk umum, seperti in-line dengan konsep komunikasi Jokowi yang bottom-up approach.


Catatan 3.
Potensi konflik di akar rumput.

Dua calon yang sangat kontras ini membuat pertarungan menjadi sengit, selisih suara yang tipis dalam quick count membuat kedua belah saling klaim kemenangan. Namun yang paling mengerikan adalah munculnya black campaign dalam skala yang masif. Menurut Bisnis Indonesia (bisnis.com) tercatat jumlah serangan pada Jokowi terdapat 148.133 informasi dengan 12 isu negatif melalui twitter. Sedangkan, capres Prabowo mendapatkan 12.090 informasi negatif dengan enam isu melalui twitter.

Kampanye tahun 2014 ini menjadi sangat intense bagi sebagian orang, begitu banyaknya kampanye negatif membuat benih-benih konflik di masyarakat menjadi muncul. Antar teman bertikai, antar saudara menjadi pecah, antar tetangga menjadi saling curiga, dan masih banyak benih konflik lainnya.

Menurut Khofifah Indar Parawansa, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Gus Dur, jumlah pasangan yang bercerai menjelang pilpres meningkat drastis. Hal ini diamini oleh Wakil Menteri Agama, Nassarudin Umar, ada sekitar 500 pasangan yang cerai gara-gara pilpres. Kasus cerai karena beda politik paling tinggi di Jawa Timur yaitu sebanyak 221 pasangan. Disusul Jawa Barat sebanyak 51 kasus perceraian dan di tempat ketiga Jawa Tengah sebanyak 36 kasus perceraian. Di Riau ditemukan 13 kasus perceraian karena beda pandangan politik. Adapun Sumatera Selatan, Papua dan Sulawesi Selatan masing-masing 2 kasus. Sedangkan di Aceh, Bengkulu, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah dan dan Nusa Tenggara Barat 1 kasus perceraian.

Ini belum lagi potensi bentrok jika ada pendukung salah satu pasangan yang tidak terima jika calon pilihannya kalah, Semoga aparat TNI/Pori siap menjadi penengah dan pihak yang netral dalam mengamankan Indonesia.



Catatan 4:
Siapakah pemenangnya?

Rakyat Indonesialah pemenangnya. Karena demokrasi sejatinya adalah proses transfer kekuasaan yang damai dan beradab. Sebuah proses yang civilized dalam pergantian rezim melalui mekanisme pemilihan langsung oleh rakyat. Lupakanlah pertikaian dan perdebatan pada saat kampanye, karena Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar ke empat di dunia menjadi contoh sukses penerapan demokrasi di dunia.

Bayangkan jika kita mengalami krisis politik seperti di Thailand, dimana PM terpilih digulingkan oleh lawan politik yang tidak puas yang kemudian digulingkan lagi oleh militer, sudah pasti banyak efek negatif yang akan timbul dari gesekan tersebut. Bahkan mungkin jika deadlock terus terjadi, rakyat Thailand akan menyingkirkan demokrasi dan membuat semacam konsensus untuk membentuk pemerintahan.

Begitu juga yang terjadi di Timur Tengah, atau lebih dikenal sebagai Arab Spring: Suriah masih berdarah-darah sampai sekarang, Tunisia menjadi kacau balau, di Mesir presiden terpilih digulingkan oleh rezim yang didukung militer, Libya masih berantakan sampai sekarang sejak Muammar Qaddafi digulingkan. Pemenangnya justru negara-negara kerajaan seperti Jordania, Bahrain, Saudi Arabia serta satu negara yang membuat surprise Amerika yaitu Iran. Iran menjadi terlihat kuat dan menakutkan bagi Saudi Arabia, Israel dan Amerika.

Siapapun pemenangnya nanti tanggal 22 Juli 2014, bersikap legowolah, bersikaplah menjadi negarawan, karena taruhannya adalah masa depan anak cucu dan bangsa Indonesia. Contohlah sikap Bung Karno yang memilih 'mengalah' terhadap rezim Soeharto yang telah menggulingkannya melalui peristiwa G30S. Bung Karno sadar, kalau dia dan pendukungnya melawan maka perang saudara dan pertumpahan darah akan tidak terelakkan. Bapak Proklamator Indonesia ini rela meninggal dalam posisi 'sangat tidak mengenakkan' untuk ukuran seorang presiden, tanpa perawatan yang memadai untuk penyakit yang dideritanya serta menjadi tahanan rumah.

Mari kita jadikan pesta demokrasi ini menjadi peristiwa yang damai, satukan kembali sekat-sekat yang telah ada, dan rekonsiliasilah bersama para sahabat yang telah terlanjur tercerai berai karena perbedaan pandangan politik.

Semoga Indonesia menjadi negara yang makmur dan maju serta sejahtera rakyatnya.


Wassalamualaikum Wr. Wb.

No comments:

Post a Comment