Saturday, November 22, 2014

Behind Fashion Glamour World Part 2: Don't take it for granted

HIDDEN RISK IN FASHION INDUSTRY: DON'T TAKE IT FOR GRANTED


Fashion Industry, seperti industri yang lain juga memiliki risiko-risiko tersembunyi yang juga harus dimanage dengan baik. Risiko-risiko yang berhubungan dengan bisnis ini jika tidak dikendalikan dan diantisipasi dengan benar akan berbahaya bagi kelangsungan hidup perusahaan.


1. CASH FLOW

Cash Flow menjadi isu utama di dunia fashion, banyak teman-teman yang sudah bertumbangan karena tidak mampu mengelola cash flow-nya dengan baik. Beberapa waktu lalu di harian Kompas, seorang fashion designer senior di ibukota berkata bahwa pilihan untuk eksis di industri yang bernilai miliaran dolar ini di Indonesia ada beberapa: satu bermain di koleksi custom made (made-by-order) atau bermain retail.

Kedua pilihan tersebut tentu saja memiliki risiko masing-masing. Bermain di arena made-by-order memang risikonya lebih sedikit dibandingkan terjun ke retail fashion. Jika terjun ke retail fashion, masalah kemampuan manajerial menjadi tantangan utama karena tidak semua desainer mampu membayar manajer profesional untuk menjalankan bisnis retail yang rumit.

Masalah capital/modal juga menjadi tantangan yang tak kalah 'menegangkan' karena bagi pemula akses terhadap modal menjadi satu tantangan tersendiri. Jika orang tuanya cukup mampu, tentu bisa mengharapkan bantuan orang tua untuk modal awal, tetapi jika orang tua tidak bisa mensupport tentu butuh bantuan perbankan atau investor lain untuk mengembangkan perusahaan. Dan ini juga tidak mudah karena tergantung konsep yang akan kita jalankan, jika konsep kita mampu membuat disruption atau konsep yang luar biasa brilian di industri fashion, dan menjanjikan keuntungan, tentu saja akan ada banyak investor yang akan tertarik.


2. PRODUKSI

Produksi ini juga salah satu risiko yang harus dimanage oleh pelaku industri fashion. Dari pengalaman brand-brand besar seperti Benetton, Mark & Spencer, dll maupun pemula-pemula seperti beberapa brand hijab lokal, produksi ini bisa menjadi batu sandungan yang serius.

Ketika produksi lancar tentu saja cash flow dan level penjualan juga sangat lancar. Nah bahaya mengintai ketika kita menganggap faktor ini taken for granted atau 'faktor yang sudah pasti berjalan'. Karena begitu produksi ini ngadat, maka seluruh perusahaan akan terkena dampaknya.

Risk Management/Manajemen Risiko terhadap produksi bisa dilakukan dengan jalan mencari alternatif tempat produksi yang bsia diandalkan, jadi ketika satu tempat sedang bermasalah, maka dengan cepat kita bisa mengalihkan antrian work-in-process ke tempat produksi yang lain. Hal ini memang tidak mudah karena tempat produksi lain juga tidak semudah itu di switch, dan kadang harus antri untuk diproduksi.

Alternatif risk management lain adalah membuat 2 atau 3 tempat produksi yang bekerja secara paralel. Pilihan ini membutuhkan volume produksi yang sudah besar, karena jika hanya sedikit tentu tidak masuk akal untuk membaginya ke 2/3 tempat produksi yang berbeda.

Intinya adalah risk management terhadap faktor produksi mutlak harus dibuat ketika kita sedang mendirikan start-up di industri fashion. Dengan planning yang baik, risiko yang timbul akan bisa diminimalisir.


3. MARKETING

Faktor Marketing/Branding ini juga satu hal yang tricky, karena tanpa disadari aktivitas branding/marketing ini yang membuat arus pelanggan dan pertumbuhan pelanggan berjalan terus tanpa henti.

Banyak pemula yang tidak menyadari hal ini, dan menganggap enteng dengan misalnya posting sembarangn di media sosial, atau tidak terstruktur faktor promosinya. Misalnya setelah melakukan fashion show, koleksi yang sudah ditampilkan tidak segera dijual. Hal ini membuat sebuah opportunity lost yang kalau dihitung akan sangat signifikan terhadap perkembangan perusahaan.

Risiko dari aktivitas Marketing/Branding yang tidak dieksekusi dengan baik adalah Customer menjadi ‘ilfil –  hilang feeling kalau menggunakan bahasa anak muda’, ujung-ujungnya mereka akan berhenti membeli produk dari kita. Apalagi di industry fashion Muslim yang customer setia saling terhubung satu sama lain melalui internet/media social/email/message dll. Satu kabar buruk dari brand akan tersebar ke banyak customer yang lain.

Faktor Marketing ini memang rumit karena membutuhkan knowledge/know-how yang cukup untuk membuat rencana/planning dan eksekusinya. Tulisan ini mungkin tidak cukup untuk membahas hal tersebut lebih detail lagi, tetapi satu hal yang patut dicermati adalah di era kompetisi yang tajam seperti saat ini, Reactive Marketing/Day-to-Day Marketing menjadi taktik yang harus dipertimbangkan supaya brand kita tetap relevan setiap harinya dan menancap di benak konsumen.

Friday, October 3, 2014

Behind the fashion's glamour world Part I


                    Fashion show yang glamor, dengan model-model yang sangat cantik seperti Miranda Kerr atau Gisele Bundchen, baju-baju yang sangat rapi, hiburan yang luar biasa, fashion desainer yang tampak wah dan lain lain adalah image yang mungkin terekam di sebagian benak orang ketika mereka melihat dunia fashion. Jendela dunia fashion ini yang membuat industri yang bernilai triliunan ini tetap berdenyut dan memberi makan dan kehidupan bagi banyak orang yang terlibat di dalamnya. Mulai dari level bawah seperti di pasar tanah abang, thamrin city, blok M sampai ke butik-butik berkelas di Plaza Senayan, Orchard Road, High Street di London, Paris, New York, dan butik-butik online yang tak kalah agresif memberondong kita dengan penawaran menarik setiap hari.

                     Di balik itu, dibutuhkan kerja keras supaya semua tetap berjalan dengan smooth mulai planning, desain, produksi, marketing, sales, customer service sampai barang di retail store dibeli oleh customer. Retail dan fashion business adalah dunia yang sangat cepat dan membutuhkan management yang kuat untuk menghandle day-to-day yang sangat kompetitif. Apalagi trend fashion bisa berlalu dengan cepat, kesalahan dalam membaca arah pasar akan membuat inventory menumpuk di gudang dan menggangu cash flow perusahaan. Retail besar seperti Zara (Inditex) memiliki solusi yang unik untuk mengantisipasi trend yang cepat berubah, mereka membeli raw material dalam kondisi warna basic seperti putih. Ketika selera pasar berubah, maka mereka tinggal mengganti warna atau print motif dengan cepat, tanpa berjudi dengan kain motif yang mungkin terlanjur diproduksi. Untuk retail besar seperti Zara yang memiliki ribuan toko di seluruh dunia (2,026 di bulan Juli 2014), ini adalah salah satu risk management yang memang harus mereka lakukan.



                          Retailer di Indonesia menggunakan strategi yang berbeda, barang yang sudah out-of-fashion akan disale besar-besaran atau dilempar ke luar pulau Jawa. Namun tentu saja strategi ini kurang efisien karena jelas akan mengurangi margin keuntungan untuk perusahaan. Jika margin yang dimiliki cukup tentu tidak akan menjadi masalah, tetapi ketika margin yang didapat tipis, maka bisa menjadi bencana bagi keuangan. Hal inilah yang membuat Matahari group selain mengambil barang dari merek ternama juga memproduksi label mereka sendiri, karena tentu saja  profit margin dan speed to market yang tidak bisa ditandingi.

                          Strategi untuk bertahan di pasar dan menjadi pemenang sangatlah banyak, di postingan berikutnya akan kita kupas satu persatu lebih dalam. Masing-masing pilihan memiliki risiko dan peluang yang berbeda, tergantung dari bagaimana kemampuan meliuk-liuk di pasar dalam mengalahkan kompetitor dan menarik hati konsumen.


Salam.                                          

#bendgate




#BENDGATE


               Akhirnya setelah mengamati kasus #bendgate yang menimpa Apple, saatnya untuk sedikit bertukar pikiran mengenai strategi PR yang ampuh ketika perusahaan yang kita pegang mengalami masalah yang serupa. Kita tidak perlu membahas mengenai Samsung, HTC atau LG, karena mereka sudah pasti akan "memeras" kasus ini habis-habisan untuk keuntungan mereka. Yang justru sangat menarik di sini adalah industri lain seperti Coca-cola dan KitKat pun tak mau ketinggalan memanfaatkan efek snow ball yang sedang menggelinding kencang. Hal ini jarang terjadi karena cross industry bisa ditemukan jika yang diserang memiliki brand image yang kuat seperti Apple, produk-produk yang menumpang tenar ini memang melakukannya supaya brand recall mereka jadi ikutan naik. Dan harus diakui memang sangat efektif, kita jadi ingat ada Kit-Kat, Coca-cola, Pringles dll.

               Mimpi buruk bagi orang PR ini adalah bagaimana memadamkan api dengan cepat dan efektif, karena salah langkah sedikit justru api yang akan menyambar kita. Jika di jaman Steve Jobs, tim PR yang dikepalai oleh Katie Cotton akan menggunakan strategi menutup diri (membiarkan masalah berlalu dengan sendirinya) atau menggunakan jurnalis/blogger yang mereka percaya untuk menyebarkan berita positif. Maka ketika era setelah Katie Cotton pensiun, tim PR baru di bawah Tim Cook harus bisa membuktikan bahwa mereka tidak kalah pintar dibandingkan seniornya. 

Salah satu strategi yang cukup efektif adalah menggunakan laporan Consumer Reports, pihak independen yang cukup kredibel, untuk menurunkan tensi #bendgate. Untungnya laporan "Consumer Reports" ini keluarnya pas berbarengan dengan kasus ini, apalagi ternyata hasil testnya HTC One juga ikut bengkok jika ditekan dengan beban sebesar 70 - 90 pounds yang membuatnya terlihat konyol jika ikut mengolok-olok Apple.


                 
Selain itu Apple mengundang beberapa jurnalis untuk datang melihat sendiri fasilitas pre-production test mereka (yang biasanya sangat rahasia), taktik ini cukup efektif meredam ketidakpercayaan konsumen terhadap perusahaan yang bermarkas di Cupertino ini.

Mungkin kasus #bendgate ini masih akan berlanjut sampai beberapa saat lamanya. Namun ada beberapa saran dari beberapa tech blogger bagi Apple supaya kasus #bendgate ini bisa segera selesai.


1. Material baru yang lebih kuat dan kokoh.
Apple memiliki patent ekslusif untuk liquid metal. Materi ini sangat kuat tetapi tetap ringan, mirip aluminium tetapi dengan tingkat kesolidan yang lebih tinggi. Mungkin masalah biaya produksi yang masih belum terpecahkan yang membuat Apple belum berani menggunakan material baru ini. Solusi lain adalah memperkuat rangka internal di titik paling lemah casing (di dekat tombol volume down).

Strategi ini adalah yang paling benar dan efektif karena begitu produk sudah sempurna, tidak ada celah bagi lawan untuk menyerang. Tim PR akan sedikit berkurang bebannya, tetapi tantangannya adalah bagaimana merubah proses produksi di pabrik dengan cepat supaya kasus ini tidak berlarut-larut.


2. Warranty
Cara lain seperti di industri otomotif adalah memberikan garansi penuh terhadap konsumen yang menemukan iPhone6 mereka yang bengkok dengan memberikan unit baru. Hal ini akan memberikan image positif jika dilakukan dengan efektif. Karena konsumen tidak perlu khawatir akan merasa rugi telah membeli handset yang melengkung, jadi tingkat kepercayaan konsumen dalam jangka pendek bisa dijaga. Yang harus diwaspadai adalah serangan black campaign kompetitor terhadap hal ini. Apple sempat memberikan statement yang kontra produktif dengan menyepelekan kasus ini hanya menimpa 9 orang customer, padahal jika dari awal berani memberikan statement yang kuat akan mengganti handset atau paling tidak memberikan biaya perbaikan gratis, hal ini yang justru akan membuat konsumen lebih pede.


3. Counter Attack
Temukan kelemahan di handset milik kompetitor, dan serang mereka sehingga perhatian konsumen teralihkan. Hal ini sangat riskan jika tidak dipersiapkan dengan matang, dan ada beberapa parameter yang harus dipenuhi sebelum bisa dilakukan. Jika sukses memang akan mengalihkan perhatian konsumen kepada kita, dan kecaman beralih ke produk kompetitor. Strategi ini lumrah ditemukan di dunia politik, dengan taktik framing yang canggih. Samsung sepertinya sedang mengalami hal ini, ketika kelemahan handset buatan mereka mulai terkuak (build quality). Saat ini tim PR Samsung sedang bekerja keras mengatasi hal tersebut, apalagi mereka yang terlihat paling gencar menyerang Apple, seolah-oah menjadi senjata makan tuan.



                   Banyak sebenarnya strategi lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi kasus-kasus PR Fiasco, intinya adalah bagaimana membuat konsumen menjadi tenang dan tetap percaya bahwa produk kita adalah yang terbaik dan ditangani oleh orang-orang terbaik dengan cepat. Jurnalis dan media menjadi kepanjangan tangan perusahaan untuk menenangkan hati konsumen kita. Dan yang terpenting, di saat krisis seperti ini, CEO harus turun tangan langsung menangani krisis setiap harinya sampai krisis tersebut lenyap, dengan komando yang cepat dari CEO kasus ini akan segera bisa ditangani. Sudah banyak contoh di industri lain yang terbukti sukses menangani PR Fiasco dengan efektif, seperti kasus Teh Botol beracun di Indonesia, kasus Tylenol, PepsiCo Tampering rumours, dll Strategi tersebut bisa dilihat di sini 


Salam.

Friday, July 11, 2014

Catatan Pilpres 2014: Jadikan pesta demokrasi yang damai.



Definisi Politik menurut Merriam-Webster adalah "showing good judgment especially in dealing with other people" dan menurut wikipedia adalah "the practice and theory of influencing other people on a civic or individual level". Namun tulisan kali ini akan lebih banyak membahas dari sisi marketing dan komunikasi masing-masing calon Presiden Republik Indonesia.


Catatan 1:
Brand Values masing-masing calon.

Pesta demokrasi 5 tahunan dalam pemilihan presiden, sangatlah menarik dalam hal: bagaimana tim kampanye masing-masing capres "menjual" gagasan/ide untuk berbagai macam profil rakyat. Sebenarnya bagi marketer hal ini adalah mimpi buruk, karena target yang dituju sangat luas dan beragam. Namun tetap ada sisi lain yang masih bisa dilakukan untuk menjual masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Jokowi menjual ide tentang kesederhanaan, proses eksekusi ide yang cepat -- yang telah dibuktikan selama menjabat sebagai walikota Solo dan menjadi Gubernur DKI, serta kemampuannya untuk memangkas birokrasi menjadi lebih cepat dan efisien. Tagline Jokowi adalah Kita sangat tepat menggambarkan sosok sederhana ini, dan sangat kena di hati sebagian besar penduduk Indonesia yang berasal dari kaum miskin serta menengah ke bawah, juga kaum menengah ke atas yang bosan dengan kaum elite yang penuh dengan retorika.

Sedangkan Prabowo menjual ide tentang profil gagah seorang mantan jenderal militer, berasal dari kaum ningrat, gagah, tegas, dan berwibawa. Dan terbukti memang sebagian besar penggemar Prabowo berasal dari keluarga militer, atau dari keluarga non-militer yang mendambakan sosok tegas dan gagah yang memimpin Indonesia. Prabowo menjadi antitesis dari sosok Jokowi yang kalem.

Dua calon yang bertolak belakang ini membuat Indonesia seolah-olah terbelah menjadi dua bagian.


Catatan 2:
Dua konsep komunikasi yang sangat kontras.

Melihat basic dua kandidat yang sangat berbeda, sisi komunikasi yang dibangun menjadi sangat jelas. Tidak ada differensiasi khusus yang harus dibangun oleh masing-masing calon, karena sejatinya differensiasi kedua pasangan calon sangatlah jelas terlihat. Bagi marketer yang memasarkan pasangan capres-cawapres tersebut, paling tidak berkurang satu pekerjaan mereka.

Nah, pertanyaannya bagaimana mengorganisasi begitu banyak relawan, konsultan politik, konsultan survei, konsultan marketing, konsultan PR dan tim sukses yang begitu banyak?

Lagi-lagi kedua calon menunjukkan dua pola yang sangat berbeda: Prabowo menggunakan pola khas militer, top down approach, semua terkomando dari atas. Mulai seragam, komunikasi, iklan, dan pergerakan tim sukses harus melalui persetujuan mantan Komandan Jenderal Kopassus ini. Bahkan konon semua yang diposting di facebook Prabowo Subianto Djojohadikusumo harus mendapatkan persetujuan khusus dari sang putera Begawan Ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo.

Sedangkan Jokowi, menggunakan approach yang berbeda yang sangat khas Jokowi: bottom up approach. Tidak terlihat komando yang dipaksakan dari atas, justru banyak inisiatif yang muncul dari bawah, seperti contoh konser di GBK Senayan yang melibatkan 200 artis terkemuka Indonesia, diinisiasi oleh relawan-relawan dan artis-artis itu sendiri. Praktis Jokowi dan tim sukses tidak terlalu banyak ikut campur dalam pelaksanaan acara, dan hanya mendukung dari belakang. Begitu juga dengan banyak kegiatan lain di daerah yang didorong oleh para sukarelawan seperti Kawan Jokowi, Bara Jokowi, Gerak Cepat, dan relawan-relawan lainnya. Ini belum termasuk relawan yang bergerilya di dunia maya seperti Jasmev dll. Maka jangan heran jika banyak sekali hashtag-hashtag yang berseliweran mulai #salamduajari #JKW4P #JokowiDay #Rame2Celup2Jari dll. Konsep pembukaan rekening sumbangan, meskipun ini belum tahu alasan sebenarnya kenapa membuka rekening sumbangan tersebut untuk umum, seperti in-line dengan konsep komunikasi Jokowi yang bottom-up approach.


Catatan 3.
Potensi konflik di akar rumput.

Dua calon yang sangat kontras ini membuat pertarungan menjadi sengit, selisih suara yang tipis dalam quick count membuat kedua belah saling klaim kemenangan. Namun yang paling mengerikan adalah munculnya black campaign dalam skala yang masif. Menurut Bisnis Indonesia (bisnis.com) tercatat jumlah serangan pada Jokowi terdapat 148.133 informasi dengan 12 isu negatif melalui twitter. Sedangkan, capres Prabowo mendapatkan 12.090 informasi negatif dengan enam isu melalui twitter.

Kampanye tahun 2014 ini menjadi sangat intense bagi sebagian orang, begitu banyaknya kampanye negatif membuat benih-benih konflik di masyarakat menjadi muncul. Antar teman bertikai, antar saudara menjadi pecah, antar tetangga menjadi saling curiga, dan masih banyak benih konflik lainnya.

Menurut Khofifah Indar Parawansa, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Gus Dur, jumlah pasangan yang bercerai menjelang pilpres meningkat drastis. Hal ini diamini oleh Wakil Menteri Agama, Nassarudin Umar, ada sekitar 500 pasangan yang cerai gara-gara pilpres. Kasus cerai karena beda politik paling tinggi di Jawa Timur yaitu sebanyak 221 pasangan. Disusul Jawa Barat sebanyak 51 kasus perceraian dan di tempat ketiga Jawa Tengah sebanyak 36 kasus perceraian. Di Riau ditemukan 13 kasus perceraian karena beda pandangan politik. Adapun Sumatera Selatan, Papua dan Sulawesi Selatan masing-masing 2 kasus. Sedangkan di Aceh, Bengkulu, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah dan dan Nusa Tenggara Barat 1 kasus perceraian.

Ini belum lagi potensi bentrok jika ada pendukung salah satu pasangan yang tidak terima jika calon pilihannya kalah, Semoga aparat TNI/Pori siap menjadi penengah dan pihak yang netral dalam mengamankan Indonesia.



Catatan 4:
Siapakah pemenangnya?

Rakyat Indonesialah pemenangnya. Karena demokrasi sejatinya adalah proses transfer kekuasaan yang damai dan beradab. Sebuah proses yang civilized dalam pergantian rezim melalui mekanisme pemilihan langsung oleh rakyat. Lupakanlah pertikaian dan perdebatan pada saat kampanye, karena Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar ke empat di dunia menjadi contoh sukses penerapan demokrasi di dunia.

Bayangkan jika kita mengalami krisis politik seperti di Thailand, dimana PM terpilih digulingkan oleh lawan politik yang tidak puas yang kemudian digulingkan lagi oleh militer, sudah pasti banyak efek negatif yang akan timbul dari gesekan tersebut. Bahkan mungkin jika deadlock terus terjadi, rakyat Thailand akan menyingkirkan demokrasi dan membuat semacam konsensus untuk membentuk pemerintahan.

Begitu juga yang terjadi di Timur Tengah, atau lebih dikenal sebagai Arab Spring: Suriah masih berdarah-darah sampai sekarang, Tunisia menjadi kacau balau, di Mesir presiden terpilih digulingkan oleh rezim yang didukung militer, Libya masih berantakan sampai sekarang sejak Muammar Qaddafi digulingkan. Pemenangnya justru negara-negara kerajaan seperti Jordania, Bahrain, Saudi Arabia serta satu negara yang membuat surprise Amerika yaitu Iran. Iran menjadi terlihat kuat dan menakutkan bagi Saudi Arabia, Israel dan Amerika.

Siapapun pemenangnya nanti tanggal 22 Juli 2014, bersikap legowolah, bersikaplah menjadi negarawan, karena taruhannya adalah masa depan anak cucu dan bangsa Indonesia. Contohlah sikap Bung Karno yang memilih 'mengalah' terhadap rezim Soeharto yang telah menggulingkannya melalui peristiwa G30S. Bung Karno sadar, kalau dia dan pendukungnya melawan maka perang saudara dan pertumpahan darah akan tidak terelakkan. Bapak Proklamator Indonesia ini rela meninggal dalam posisi 'sangat tidak mengenakkan' untuk ukuran seorang presiden, tanpa perawatan yang memadai untuk penyakit yang dideritanya serta menjadi tahanan rumah.

Mari kita jadikan pesta demokrasi ini menjadi peristiwa yang damai, satukan kembali sekat-sekat yang telah ada, dan rekonsiliasilah bersama para sahabat yang telah terlanjur tercerai berai karena perbedaan pandangan politik.

Semoga Indonesia menjadi negara yang makmur dan maju serta sejahtera rakyatnya.


Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tuesday, January 14, 2014

7 Powerful Habit of Entrepreneurs




Beberapa minggu lalu, majalah Entrepreneur membahas mengenai powerful habbit of successful entrepreneurs. Namun sepertinya isinya agak teoritis, tidak sesuai dengan yang terjadi di Indonesia. Banyak hal yang bisa kita pelajari untuk menjadi entrepreneur tangguh di negara yang boleh dibilang masih agak kacau seperti Indonesia.


1. Doa
No 1 yang harus diingat adalah, kita bisa ada di dunia ini karena ada Yang Maha Kuasa, jadi jangan lupa untuk berdoa dan memohon dilimpahkan rezeki dariNya. Hal ini sering dilupakan oleh banyak manusia, tetapi Insha Allah, banyak sekali pertolongan dariNya yang tak akan disangka-sangka datang kepada kita. Contoh dari hal ini bisa dibuktikan dalam perjalanan usaha nanti, believe it or not.


2. Visi
Visi ini penting karena yang akan membawa arah perusahaan ke depan. Dulu pernah ngobrol dengan salah satu tangan kanan bos konglomerat di Indonesia. Ternyata luar biasa, banyak hal yang tidak kita pikirkan sudah dieksekusi atau mungkin sebentar lagi dieksekusi bisnisnya oleh beliau. Ketajaman visi ini bisa diasah dengan banyak belajar dari pengusaha yang sudah sukses atau bisa membaca tanda-tanda pasar bergerak di mana.  Kecerdikan dalam mematuhi regulasi tetapi mampu bermanuver di ruang sempit juga menjadi salah satu kunci penting untuk sukses di Indonesia.

3. Determinasi dan konsistensi.
Ini juga salah satu penyakit pengusaha pemula di sini, karena banyak yang memiliki semangat menggebu-gebu tetapi kebanyakan kandas karena malas atau peribahasanya (maaf) hangat-hangat tahi ayam. Determinasi dan konsistensi tidak bisa diajarkan, karena ini menyangkut motivasi masing-masing. Biasanya motivasi ke arah spiritual (akhirat) atau uang (dunia) lebih awet di dunia ini meskipun keduanya seperti bertolak belakang.

4. Pengetahuan.
Knowledge atau skill terutama dari sisi manajemen sangat dibutuhkan (mulai dari people skills, accounting, IT, taxation, retail, dll). Karena begitu usaha yang dirintis maju, maka management skill akan menjadi krusial supaya perusahaan tidak menjadi berantakan. Skill ini bisa dipelajari sambil jalan, ataupun bekal dari sekolah manajemen bisa menjadi modal penting. Namun satu yang pasti jangan membatasi diri dengan menolak ide-ide baru atau konsep baru, karena begitu kita menutup diri maka sudah pasti siap-siap untuk dilibas oleh pesaing.

5. Networking.
Networking menjadi salah satu kunci, karena bisnis bisa terbantu dengan network yang tepat. Mulai network ke investor, network ke sesama pelaku bisnis di industri tersebut, atau network ke teman-teman pengusaha yang lainnya. Kerjasama yang saling menguntungkan dan positif akan memberikan support yang luar biasa bahkan berkali-kali lipat ke bisnis yang sedang kita jalankan.

6. Paranoid.
Paranoid di sini dalam arti yang positif, maksudnya selalu waspada. Karena sudah banyak contoh di dunia ini perusahaan yang saat ini leading, besok bisa saja terlempar dari persaingan. Blackberry dan Nokia menjadi contoh yang utama, karena 6-7 tahun lalu adalah market leader untuk smartphone dan feature phone tapi bisa disalip oleh iPhone dan Android yang melaju kencang tak terbendung. Di sini attitude untuk selalu terbuka dan mau menerima perubahan walaupun terlihat sepele bisa menyelamatkan bisnis yang sedang dijalankan.

7. Social Responsibility.
Jangan lupa untuk menyisihkan sebagian keuntungan dari yang kita miliki untuk membantu sesama. Powerful habit no 7 ini sangat berkaitan dengan No. 1. Atau filosofisnya, No.7 ini akan membantu doa kita kepada Yang Maha Kuasa supaya No. 2,3,4,5,6 bisa terjadi. The power of sedekah sudah dibuktikan oleh banyak orang, bisa kembali kepada usaha kita tak terhitung jumlahnya. Jadi jangan lupa untuk menyisihkan sebagian rejeki kita untuk membantu orang lain yang lebih lemah.

So, selamat mencoba.