Wednesday, September 25, 2013

Invisible Social Media



Twitter baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk melakukan IPO (Initial Public Offering) di New York Stock Exchange (NYSE), dengan valuasi sekitar $ 1,5 milliar. Tentu saja implikasinya adalah pendiri Twitter menjadi kaya raya dan beberapa karyawan yang pernah mendapatkan bonus dalam bentuk saham akan turut kecipratan rejeki dari peluncuran perdana saham tersebut. 

Sebenarnya sudah agak membosankan membahas mengenai Twitter dan kejadian-kejadian di dalamnya, namun tiba-tiba postingan teman (image di atas) membuat sedikit tersenyum karena fenomena ini masih berlanjut sampai sekarang

Nah, kembali ke individu penggunan social media, tentu sekarang semakin banyak pilihan untuk bercuap-cuap di dunia maya, mulai Instagram, Pinterest, sampai Path yang sekarang sedang menjadi hits di kalangan anak muda indonesia. 

Path memang lebih menyenangkan dibandingkan Twitter, namun kedua medium tersebut sepertinya bagaikan kutub utara dan kutub selatan, Path justru sukses karena menjadi anti social....followers dibatasi 150 orang karena berdasarkan riset interaksi rata-rata manusia sekitar angka tersebut, bahkan  mereka juga telah meluncurkan layanan yang lebih introvert lagi dengan private circle yang bisa dipilih dari beberapa teman dekat.



Image postingan di atas cukup menggelitik karena merupakan summary dari efek samping penggunan Path. 

Kalau melihat image pertama dan yang terakhir ada dua kesamaan yang bisa ditarik yaitu teknologi dan medium sosial berbasis teknologi menjadi semakin "kasat mata atau bahasa kerennya invisible". 

Visi Steve Jobs dan Johny Ive seperti yang digambarkan dalam adegan film Jobs (2013) pada saat Steve pertama kali bertemu Ive di studio Apple menjadi kenyataan, bahwa teknologi merupakan kepanjangan dari human interest, human behavior. Teknologi menjadi sebuah hal yang taken for granted, terserap secara tak sadar dalam kehidupan masyarakat modern. 

Debat mengenai medium sebenarnya sudah tidak relevan, karena pengguna medium sosial tersebut justru lebih sibuk mengomentari individu lainnya serta pengalaman berinteraksi dengan teman. 

So, mari kita nikmati user experience dalam aktivitas sosial di medium social media yang ada, dan menanti terobosan baru yang mungkin  lebih seru di masa depan jika bandwith internet di dunia dan Indonesia khususnya lebih besar dan lebih cepat, misalnya virtual chat dengan video 3D, atau main tonjok-tonjokan menggunakan teknologi hologram, atau berkunjung ke Disneyland secara virtual dan beramai-ramai dengan teman-teman di theme park yang juga virtual.....dll.....