Friday, June 21, 2013

#BrandStory LEGO





Lego, sebuah brand yang bertahan puluhan tahun di tengah maraknya game anak-anak berbasis iPad maupun Playstation. Saya yakin, mungkin sudah banyak yang menonton video sejarah Lego di atas, namun satu hal yang menarik adalah bagaimana Oley dan Putranya memiliki sebuah DNA yang sama yaitu kecepatan mengeksekusi konsep dan ide menjadi sebuah bisnis yang nyata. It's simple but difficult.

Jika kita bertanya kepada teman atau kenalan yang kebetulan ingin berbisnis, kebanyakan dari mereka hanya daydreaming tanpa ada effort untuk menjadikannya sebuah bisnis nyata, hal ini tidak mengeherankan karena tidak semua manusia dilahirkan bisa menjadi risk challenger, banyak juga yang risk avenger, komentar yang sering kita dengar "Jadi PNS sajalah gak usah aneh-aneh" atau "makan nasi 3 x sehari sudah cukup".

 Tetapi pendiri LEGO ini memang luar biasa visinya, mereka mampu merubah sebuah mimpi menjadi bisnis berskala global. Ini satu hal yang harus kita panuti untuk menjadi pebisnis yang tangguh. Selamat menikmati foto-foto dari LEGO Land.










Startup Tips: Manager & Management




Keputusan untuk menjadi entrepreneur ternyata memberikan banyak knowledge baru di luar office cubical. Jika berada di sebuah perusahaan besar, mungkin hal-hal seperti struktur management yang ada kita anggap taken for granted, atau memang seharusnya begitu adanya. HRD sibuk mengurus orang-orang, Finance sibuk menolak tagihan biaya dinas kita (baca: entertainment client), manager menjadi pengawas keputusan eksekutif dan staff kalau ada manager sok terlihat sibuk tetapi kalau manajernya tidak ada mungkin lebih baik main path atau Instagram.


Namun jika kita duduk sejenak, berpikir, dan merenung, kalau bisa waktu bisa kita stop seperti Hiro dalam serial Heroes, mari kita lihat esensi di belakang kesibukan orang-orang di belakang organisasi tersebut.

Peter Drucker memberikan pandangan yg sedikit kontroversial tapi mungkin juga benar dalam level tertentu, bahwa basic task management adalah marketing dan innovation. Di sebuah perusahaan startup, rata-rata yang berhasil karena sudah melek marketing, dan bisa berinovasi, berkelit dari terkaman kompetisi.

Problem akan muncul begitu bisnis tersebut mulai beranjak besar, ownernya sudah tidak memiliki waktu lagi mengurus semuanya, mulai butuh manager yang bisa take care bisnis dengan passion yang sama seperti pemilik bisnis. Dari sini owner mulai mulai harus mengerti bagaimana tipe dan karakter orang yang tepat untuk bisnisnya.






Seorang filsuf manajemen Irlandia, Charles Handy dalam buku klasiknya "Understanding Organization" memberikan contoh yang mungkin paling mudah dicerna bagi pebisnis yang sibuk. Idenya diambil dari mitologi Yunani yang merupakan contoh paling gamblang tipe-tipe organisasi yang saya adopt menjadi tipe-tipe karakter personel di dalam organisasi:

- Tipe Zeus (Power, Patriarch): ini adalah tipe one powerful person yang cenderung untuk memimpin dan menentukan arah organisasi. Yang terbayang sudah pasti tipe-tipe seperti Steve Jobs atau Richard Branson.


- Tipe Apollo (bureaucracy, role culture): ini adalah orang-orang yang bekerja sesuai aturan perusahaan, birokrasi yang terstruktur. Contoh, supervisor pajak, ya dia akan melakukan hal tersebut berulang-ulang sepanjang karirnya. Semua sudah ada regulasinya. Tipe orang seperti ini memiliki sebuah "kepuasan" jika melakukan pekerjaan sesuai aturan yang sudah digariskan.


- Tipe Athena (meritocracy, expertise): tipe ini paling banyak ditemukan di perusahaan asing, karena memang kebanyakan yang embrace meritocracy adalah perusahaan-perusahaan yang mengerti kultur tersebut. Semua ada KPI, reward dan punishment jelas, dan mereka akan mengejar hal tersebut untuk karirnya.

- Tipe Dionysus (individualism, non-corporate): tipe ini dari luar sepertinya tipe orang yang susah dikendalikan, padahal mereka memiliki vision yang mungkin lebih jauh ke depan dan juga memiliki pengetahuan di atas rata-rata. Tipe-tipe ini cocoknya menjadi pemimpin sebuah task force untuk project-project tertentu yang tidak terikat jam kerja atau mumbo jumbo corprate.


Sebuah organisasi yang sehat sepertinya memiliki balance di antara keempat tipe tersebut, inovatif tapi juga harus disiplin dalam akuntansi, mengikuti aturan tetapi juga harus ada yang bisa membimbing keluar masalah ketika ada badai menerjang. Terlihat seperti kuno, tapi dalam beberapa hal masih bisa digunakan untuk masa kini. Apalagi untuk perusahaan yang baru berdiri, butuh seorang manajer yang mampu mengerti orang-orang yang bekerja di bawahnya.

Dan tentu saja setiap organisasi tidak akan sama, tergantung sudah di level mana, di perusahaan yang sangat advance tentu sudah banyak tools-tools manajemen terbaru yang mereka gunakan, mulai Six Sigma, ESQ, Spiritual Organization, Happines Workplace Concept, dll. Namun untuk startup yang masih baru berdiri, tidak ada salahnya mencoba resep kuno yang sudah tried and tested.

So, selamat mencoba.



Sunday, June 16, 2013

Office Branding


Apple, Zappos, Innocent Drinks dan Google menjadi contoh bagaimana sebuah office space yang tadinya cuma benda mati bisa disulap mejadi branding medium yang powerful. Mungkin saat ini sudah banyak yang tahu bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut memperlakukan karyawannya dengan sangat luar biasa, tetapi hanya sedikit yang berani menerapkan strategi ini karena memang butuh biaya yang tidak sedikit.






Image: Apple Inifinite Loop - Apple Campus


Yang patut diacungi jempol tentu saja visi Manajemen yang menganggap talent harus diperlakukan dengan spesial, karena memang mempertahankan talent yang  kompeten tidak mudah. Banyak sekali opportunity di luar yang bisa membuat karyawan dengan mudah pindah ke perusahaan lain, jika dihitung tentu banyak kerugian yang terjadi dari sisi waktu, tenaga dan biaya jika seorang karyawan memutuskan untuk berhenti.


Di Indonesia juga masih jarang perusahaan yang melakukan hal tersebut, mungkin karena memang talent yang kurang dihargai di sini atau belum memiliki visi ke arah sana. Beberapa venture capitalist, media digital dan perusahaan teknologi sudah berusaha menerapkan dalam skala yang lebih kecil, beberapa agency kreatif juga membuat kantornya sekreatif mungkin supaya karyawannya betah. Namun jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Ke depannya, ketika pasar tenaga kerja skillful semakin ketat, bukan tidak mungkin akan lebih banyak lagi perusahaan lokal yang berani melakukan hal seperti Google atau Apple.



Image: Google Dublin Office



Image: Google Dublin Office



Image: Google Dublin Office


Image: Google Dublin Office


Image: Google Dublin Office