Sunday, May 19, 2013

Marketer: Part Artist & Part Scientist



Ini cerita klasik mengenai persepsi marketer, sebuah profesi yang widely misunderstood, karena karakternya yang unik dan berbeda dengan profesi lainnya.

Jika melihat struktur perusahaan besar, profesi marketer bukanlah sebuah hal yang aneh, karena hampir sebagian besar manajemen memahami bahwa mereka butuh marketing dept. untuk memberikan solusi terhadap banyak hal yang tidak dimengerti oleh CEO yang mungkin latar belakangnya finance ataupun sales. Seperti contoh dunia Branding yang tidak mudah untuk dimengerti, Advertising, Word of Mouth, PR, digital marketing, NPS, Neuroscience,  dan banyak hal baru yang muncul sesuai perkembangan jaman.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kualifikasi seorang marketer yang dibutuhkan, karena beberapa kali mencari figur marketer yang pas tidak mudah ditemukan di pasar 'skilled workers'. Infographic di atas mungkin bisa membantu menggambarkan secara ringkas profile seorang marketer. 


Marketer sebagai scientist

Marketer sebagai scientist dibutuhkan untuk manajemen operasi sehari-hari,  mendecode data pasar dan consumers serta data lain sebagai bahan untuk pengambilan keputusan. Jika latar belakang pendidikan marketer tersebut adalah ekonomi tentu lebih mudah karena hal-hal seperti statistik, ekonomi makro, ekonomi mikro, accounting, dll sudah pernah dipelajari di bangku kuliah. Meskipun bukan syarat mutlak but it really helps, karena otak orang tersebut sudah terbiasa dengan analisa data, dan ini unconsciously bekerja membantu dalam membedah pasar.

Marketer sebagai artist

Ini hal yang subtle tapi sangat berguna di dunia marketing yang membutuhkan analisa visual yang komprehensif. Mulai dari memutuskan visual untuk advertising, website, dan promo lain, kemampuan visual dan art dibutuhkan untuk menghasilkan karya yang stand out. Begitu juga kreatifitas untuk membuat sebuah campaign atau event, marketer yang memiliki kemampuan otak kanan yang baik, akan memiliki competitive advantage dibandingkan yang tidak memiliki kemampuan tersebut.


Kedua hal ini memang tidak mutlak harus ada, di perusahaan besar yang fungsi manajemen dibelah menjadi departemen-departemen, analisa bisa dihasilkan oleh product  development atau business development sehingga marketer tinggal membaca data dan melakukan eksekusi. Sedangkan untuk urusan kreatif bisa juga diserahkan ke agency, dan marketer cuma berperan sebagai manajemen yang mematuhi schedule marketing plan (sound seperti profesi yang membosankan).

Tetapi, jika berkaca pada startup business, hal ini akan sangat terasa. CEO atau owner sebuah startup/UKM yang memiliki sense art dan analisis akan memiliki keunggulan dibandingkan kompatriotnya. Hal ini karena pada ukuran bisnis tertentu seperti UKM atau startup yang masih kecil, membayar gaji marketer yang kompeten (baca: bergaji lumayan besar) adalah sebuah keputusan yang tidak mudah, karena trade-off nya dengan menggaji sales yang sudah pasti untuk jualan dan menghasilkan cash. 

Mungkin saat ini belum ada data sangat detail membandingkan performance antara startup yang memiliki marketer dan tidak. Jika ada hypothesis ini mungkin bisa lebih valid karena ada data yang berbicara, tetapi dari pengalaman beberapa startup yang didirikan oleh teman-teman, ini adalah sebuah problem yang nyata terjadi dan hampir semua mengalaminya. Setup communication structure, branding, advertising, website, photograpy, dll akan lebih mudah jika memang pendiri perusahaan memiliki kemampuan otak kanan yang baik, bagi yang tidak memiliki kemampuan tersebut, mereka harus membayar lebih mahal untuk konsultasi ataupun menyewa brand expert, photographer ataupun graphic designers.

So, selamat jika Anda memang memiliki seorang marketer di perusahaan Anda, itu adalah point keunggulan yang harus dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis.


Sunday, May 12, 2013

#throwback #infographic iPhone 5


#throwback Penjelasan Klasik beda Marketing, PR, Advertising, Branding


Posterous Ditutup




Dear Tambalbrand readers,

Mungkin yang sering membaca blog tambalbrand di posterous sedikir kecewa, karena posterous ditutup oleh twitter setelah hanya setahun diakusisi  So, satu content dari posterous akan dipindahkan ke sini. Isinya mungkin agak berat, tapi Insya Allah masih bisa dicerna oleh fans tambalbrand.

Alasan ditutupnya mungkin kurang begitu jelas, tetapi sepertinya twitter hanya fokus pada layanan microblogging twitter, company lain yang diakusisi seperti posterous dan tweetdeck pun juga ditutup. So, begitulah kenyataan di dunia, idealisme untuk membangun brand original mungkin tidak berbanding lurus dengan tujuan pemilik baru yang mengakuisisinya.

Enjoy the blog.


Hary Novianto

Thursday, May 9, 2013

Start Up Branding




Start-up atau mungkin di Indonesia lebih dikenal sebagai perusahaan yang baru berdiri terutama di bidang teknologi, atau juga banyak yang menyebutnya UKM (Usaha Kecil Milyaran) :) memiliki karakter sendiri.

Dari berbagai diskusi dengan teman-teman yang baru memulai bisnis, rata-rata memiliki 2 problem yang sama yaitu bingung dan kebingungan. Apalagi yang selama ini pekerjaannya tidak ada hubungan dengan sales, marketing dan finance/accounting, sepertinya banyak hal yang harus mereka pelajari ketika mulai berbisnis mulai bagaimana membuat laporan keuangan, bagaimana proses distribusi barang, bagaimana mencari modal, bagaimana caranya membranding usaha baru mereka, dan banyak lagi bagaimana-bagaimana yang lain yang bermunculan.

Point mengenai keuangan mungkin terlalu membosankan untuk dibahas, jadi diskusi kita fokuskan pada masalah branding. Hal ini menarik karena banyak merasa menjadi brand expert, tetapi ketika digali lebih dalam ternyata yang diketahui cuma cara membuat logo.

Step-step membuat brand yang powerful sebenarnya tidak usah menggunakan tools-tools branding yang kompleks, beberapa tools sederhana ini bisa langsung dieksekusi oleh perusahaan-perusahaan yang baru berdiri untuk check-up kesehatan brand mereka:


1. Mind Share
Tools ini cukup simple untuk para pemula, cek saja apakah brandnya sudah melakukan hal-hal sederhana ini atau belum?

a. Segmenting
Apakah sudah punya gambaran yang jelas segmen yang dituju? Jika di fashion mau bermain dimana? Baju anak, remaja, dewasa, atau lebih mature lagi.

b. Targeting
Apakah sudah yakin dengan segmen pasar yang dituju? Jika sudah efforts diarahkan ke pasar tersebut,

c. Positioning
Ini yang sedikit tricky, karena once positioning diset, maka harus konsisten dalam eksekusinya. Customer akan bingung jika setiap bulan kita berganti positioning.


2. Market Share
Proses mendapatkan market share sangat bergantung kepada strategi bisnis tersebut. Tools sederhana yang bisa dipakai antara lain selling process, marketing mix, dll. Bagi startup, trial dan error mungkin diperlukan untuk mendapatkan komposisi terbaik.


3. Heart share
Ini yang mungkin lebih berat, karena membutuhkan pengalaman, skill, dan pemahaman konsep mendapatkan heart share dari konsumen. Yang pasti brand, service process, ada di dalam tools ini. Bagi pemula, yang paling mudah dilakukan adalah mempunyai identitas brand yang clear dan service yang extraordinary.

3 tools sederhana tersebut bisa langsung dipraktekkan, coba analisa brand kita apakah sudah clear dalam  konsep dasar bisnisnya, kadang karena langsung terjun membuat usaha, ada beberapa hal yang terlewatkan, seperti positioning yang belum jelas atau pricing strategy yang tidak relevan dengan target marketnya.

Ilmu marketing dan branding sendiri sudah berkembang luas dan dalam, banyak konsep yang lebih canggih yang bisa diexplore. Satu persatu akan kita kupas di artikel tambalbrand berikutnya.


So, selamat berbisnis :)