Thursday, November 28, 2013

Cultural Impact and Communication Skills



Undangan untuk menjadi dosen tamu di Universitas Atmajaya dengan topik mengenai pengaruh kultur di perusahaan Multinasional, memberikan banyak pemikiran baru yang menarik, terutama mengenai adapatasi.

Di kelas saya bereksperimen sedikit mengenai expatriate, saya coba bertanya kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi siapa expatriate di Indonesia yang mereka kenal dengan hadiah sebuah coklat toblerone sebagai snack. Hampir seisi kelas terdiam, tetapi ada satu orang yang menjawab Eric Meijer.

Di perusahaan multinasional, expatriate
(orang dari negara asal perusahaan asing yang ditempatkan di negara lain seperti Indonesia) adalah hal yang biasa. Banyak alasan mereka untuk mau pergi dari negaranya, tetapi banyak juga yang gagal menjalankan misi tersebut. Masalah utama adalah adaptasi.

Meskipun manusia konon merupakan hasil dari seleksi alam, terutama dari kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, namun masing-masing memiliki kecepatan untuk beradaptasi yang berbeda-beda. Hal yang terlihat sepele ini yang banyak menyebabkan seorang karyawan/manager gagal ketika ditempatkan di sebuah tempat baru yang jauh dari negara tempat mereka berasal.

Hal ini sangatlah penting buat sebuah brand ketika akan melakukan ekspansi usaha,kemampuan beradaptasi karyawan haruslah diperhatikan.



Hal kedua yang menarik adalah mengenai communication skills, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang sepertinya harus banyak belajar dalam berkomunikasi dengan rekan sekerja dan atasan.Karena hal ini memang tidak diajarkan di text book kuliah. Kegagalan dalam berkomunikasi juga salah satu sumber kegagalan dalam karir.

Hal yang sama juga terjadi pada entrepreneur, sebagai pengusaha muda business communcation skills sangatlah penting untuk menjalankan usaha. Banyak yang mengaibaikan hal simpel ini, padahal ini adalah kunci dalam mengembangkan sebuah brand. Mulai berkomunikasi dengan staff, dengan perusahaan lain, dengan supplier, dengan media, dll. Sudah ratusan ataupun ribuan contoh di lapangan, banyak bisnis yang gagal karena kegagalan dalam berkomunikasi, so jangan segan-segan untuk mengupgrade your communication skills.


Salam Tambalbrand.







Monday, November 18, 2013

Brief Fashion Branding in Indonesia Part I





Akhirnya ada sedikit waktu untuk menulis soal fashion branding, padahal idenya sudah lama ada di kepala. Dan sebenarnya banyak sekali topik yang ingin dibahas, namun karena keterbatasan waktu dan kalau terlalu panjang artikelnya nanti menjadi novel, maka tulisan mengenai fashion branding akan dibagi menjadi beberapa parts.

Sebagai ilustrasi awal, dunia fashion di Indonesia sangatlah kaya dengan desain dan motif kain yang sangat bervariasi, mulai dari Sabang  - Merauke, Ternate - Pulau Rote. Begitu juga dengan teknik tenun, ikat, knit sampai ke pencelupan warna, Indonesia sangatlah kaya.
Bagi desainer, ini adalah surga karena banyak yang bisa dieksplor, tetapi sekaligus challenge karena how to mix traditional image dan modern image tidak mudah untuk dieksekusi. Belum lagi kita bicara fashion Muslim yang sangat dinamis dan bergerak di antara banyak sisi: tradisi, spiritual, religi dan post modern society.

Ibarat rumah, sebuah brand juga harus memiliki struktur dasar, atau fondasi yang kuat supaya tidak mudah rubuh diterpa hujan besar ataupun banjir bandang. Yang pertama tentu saja adalah raison d'etre: atau reason why we build the brand in the first place. Brand tersebut dibuat purposenya untuk apa? Positioningnya ada dimana? Segmen apa yang dituju? Dan apakah brand tersebut relevan dengan customer yang dibidik? Apakah brand tersebut profitable? Apakah memiliki human resource yang bagus untuk mensupport brand tersebut? Apakah sanggup melawan kompetitor? dll. 

Values-values yang mengerucut menjadi satu inilah yang menjadi cikal bakal sebuah brand, mungkin terlihat subtle dan abstrak, namun justru values-values inilah yang membuat brand promoters/customers mensupport ide tersebut dengan jalan membeli produk-produk yang diluncurkan oleh sebuah label fashion.

Fondasi raison d'etre yang kuat ini menjadi basis ketika bisnis yang kita buat pertama kali dijalankan, seperti contoh Louis Vuitton, brand ini memiliki sebuah key purpose serta tradisi yang di perkuat dan diulang-ulang kepada audiencenya dengan kreatifitas yang membuat kita terperangah: The art of travelling menjadi sebuah mantra yang sangat powerful, serta dikomunikasikan dengan sangat brilian. Demikian juga dengan Burberry, Trench Coat mereka menjadi simbol British Fashion dikombinasikan dengan digital strategy menjadi sebuah bisnis fashion miliaran dollar. Campaign koleksi terbaru mereka yang diabadikan hanya dengan iPhone 5S menjadi perbincangan di industri fashion, bahkan saking suksesnya akhirnya CEO Burberry, Angela Ahrendts dibajak oleh Apple untuk menjadi head of retail perusahaan tersebut.

Bagi brand lokal, terutama yang baru berdiri, tentu saja kasus yang dihadapi berbeda, ada beberapa common problem yang sering ditemukan oleh pemilik brand lokal:

1. Dilema ketika dihadapkan pada pilihan antara bertahan hidup dan menjaga konsistensi brand yang sudah dikonsep secara mendalam di awal. Pressure untuk menjaga karyawan di bagian produksi tetap bertahan, sekaligus menutup biaya operasi perusahaan sangat menggoda untuk mengambil short-term decision seperti sale besar-besaran. Hal ini akan mendilusi makna brand. Melakukan kompromi dengan menggunakan bahan substandard demi profit yang lebih tinggi juga salah satu common practice yang bisa membuat brand fans/cult followers/promoters kabur.

2. Kehilangan arah. Kehilangan arah sepertinya terlihat silly, tetapi kita jangan meremehkan hal ini karena banyak pemilik brand yang bingung ketika perusahaan yang mereka bangun sudah ibaratnya berada di separuh jalan. Apakah mau bermain di segment mid-low? Apakah harus mengeluarkan line khusus wedding? Ingin mengganti penampilan store? Apakah harus mengganti nama brand? dll.

3. Komunikasi pemasaran. Ini juga salah satu yang belum banyak disentuh, bagaimana guidelines komunikasi marketing yang digunakan? Medium mana yang dipilih? Seberapa besar impactnya? Bagaimana desain komunikasinya, dll.

4. Kurang paham dalam membaca data pasar. Padahal data ini bisa menjadi navigator penting ketika membuat sebuah keputusan bisnis, mulai dari customer acceptance, familiarity, bestseller product, store performance, profitability, dll.

So, banyak memang yang harus dipelajari oleh brand-brand fashion lokal yang baru berdiri, karena sangat kompleks knowledge bisnis dan marketing yang ada di baliknya. Bertanya kepada yang ahli menjadi salah satu solusi, karena strategi brand tidak bisa dikerjakan sambil lalu atau bertanya kepada expert yang baru setengah matang, karena ini menyangkut harkat hidup orang banyak serta karyawan yang bergantung hidupnya kepada brand tersebut. Di Indonesia banyak yang expert di bidang fashion branding (via dosen sekolah-skolah mode atau sekolah-sekolah bisnis) atau praktisi lainnya yang siap membagi ilmu mereka.


Salam.

Wednesday, September 25, 2013

Invisible Social Media



Twitter baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk melakukan IPO (Initial Public Offering) di New York Stock Exchange (NYSE), dengan valuasi sekitar $ 1,5 milliar. Tentu saja implikasinya adalah pendiri Twitter menjadi kaya raya dan beberapa karyawan yang pernah mendapatkan bonus dalam bentuk saham akan turut kecipratan rejeki dari peluncuran perdana saham tersebut. 

Sebenarnya sudah agak membosankan membahas mengenai Twitter dan kejadian-kejadian di dalamnya, namun tiba-tiba postingan teman (image di atas) membuat sedikit tersenyum karena fenomena ini masih berlanjut sampai sekarang

Nah, kembali ke individu penggunan social media, tentu sekarang semakin banyak pilihan untuk bercuap-cuap di dunia maya, mulai Instagram, Pinterest, sampai Path yang sekarang sedang menjadi hits di kalangan anak muda indonesia. 

Path memang lebih menyenangkan dibandingkan Twitter, namun kedua medium tersebut sepertinya bagaikan kutub utara dan kutub selatan, Path justru sukses karena menjadi anti social....followers dibatasi 150 orang karena berdasarkan riset interaksi rata-rata manusia sekitar angka tersebut, bahkan  mereka juga telah meluncurkan layanan yang lebih introvert lagi dengan private circle yang bisa dipilih dari beberapa teman dekat.



Image postingan di atas cukup menggelitik karena merupakan summary dari efek samping penggunan Path. 

Kalau melihat image pertama dan yang terakhir ada dua kesamaan yang bisa ditarik yaitu teknologi dan medium sosial berbasis teknologi menjadi semakin "kasat mata atau bahasa kerennya invisible". 

Visi Steve Jobs dan Johny Ive seperti yang digambarkan dalam adegan film Jobs (2013) pada saat Steve pertama kali bertemu Ive di studio Apple menjadi kenyataan, bahwa teknologi merupakan kepanjangan dari human interest, human behavior. Teknologi menjadi sebuah hal yang taken for granted, terserap secara tak sadar dalam kehidupan masyarakat modern. 

Debat mengenai medium sebenarnya sudah tidak relevan, karena pengguna medium sosial tersebut justru lebih sibuk mengomentari individu lainnya serta pengalaman berinteraksi dengan teman. 

So, mari kita nikmati user experience dalam aktivitas sosial di medium social media yang ada, dan menanti terobosan baru yang mungkin  lebih seru di masa depan jika bandwith internet di dunia dan Indonesia khususnya lebih besar dan lebih cepat, misalnya virtual chat dengan video 3D, atau main tonjok-tonjokan menggunakan teknologi hologram, atau berkunjung ke Disneyland secara virtual dan beramai-ramai dengan teman-teman di theme park yang juga virtual.....dll.....



Friday, June 21, 2013

#BrandStory LEGO





Lego, sebuah brand yang bertahan puluhan tahun di tengah maraknya game anak-anak berbasis iPad maupun Playstation. Saya yakin, mungkin sudah banyak yang menonton video sejarah Lego di atas, namun satu hal yang menarik adalah bagaimana Oley dan Putranya memiliki sebuah DNA yang sama yaitu kecepatan mengeksekusi konsep dan ide menjadi sebuah bisnis yang nyata. It's simple but difficult.

Jika kita bertanya kepada teman atau kenalan yang kebetulan ingin berbisnis, kebanyakan dari mereka hanya daydreaming tanpa ada effort untuk menjadikannya sebuah bisnis nyata, hal ini tidak mengeherankan karena tidak semua manusia dilahirkan bisa menjadi risk challenger, banyak juga yang risk avenger, komentar yang sering kita dengar "Jadi PNS sajalah gak usah aneh-aneh" atau "makan nasi 3 x sehari sudah cukup".

 Tetapi pendiri LEGO ini memang luar biasa visinya, mereka mampu merubah sebuah mimpi menjadi bisnis berskala global. Ini satu hal yang harus kita panuti untuk menjadi pebisnis yang tangguh. Selamat menikmati foto-foto dari LEGO Land.










Startup Tips: Manager & Management




Keputusan untuk menjadi entrepreneur ternyata memberikan banyak knowledge baru di luar office cubical. Jika berada di sebuah perusahaan besar, mungkin hal-hal seperti struktur management yang ada kita anggap taken for granted, atau memang seharusnya begitu adanya. HRD sibuk mengurus orang-orang, Finance sibuk menolak tagihan biaya dinas kita (baca: entertainment client), manager menjadi pengawas keputusan eksekutif dan staff kalau ada manager sok terlihat sibuk tetapi kalau manajernya tidak ada mungkin lebih baik main path atau Instagram.


Namun jika kita duduk sejenak, berpikir, dan merenung, kalau bisa waktu bisa kita stop seperti Hiro dalam serial Heroes, mari kita lihat esensi di belakang kesibukan orang-orang di belakang organisasi tersebut.

Peter Drucker memberikan pandangan yg sedikit kontroversial tapi mungkin juga benar dalam level tertentu, bahwa basic task management adalah marketing dan innovation. Di sebuah perusahaan startup, rata-rata yang berhasil karena sudah melek marketing, dan bisa berinovasi, berkelit dari terkaman kompetisi.

Problem akan muncul begitu bisnis tersebut mulai beranjak besar, ownernya sudah tidak memiliki waktu lagi mengurus semuanya, mulai butuh manager yang bisa take care bisnis dengan passion yang sama seperti pemilik bisnis. Dari sini owner mulai mulai harus mengerti bagaimana tipe dan karakter orang yang tepat untuk bisnisnya.






Seorang filsuf manajemen Irlandia, Charles Handy dalam buku klasiknya "Understanding Organization" memberikan contoh yang mungkin paling mudah dicerna bagi pebisnis yang sibuk. Idenya diambil dari mitologi Yunani yang merupakan contoh paling gamblang tipe-tipe organisasi yang saya adopt menjadi tipe-tipe karakter personel di dalam organisasi:

- Tipe Zeus (Power, Patriarch): ini adalah tipe one powerful person yang cenderung untuk memimpin dan menentukan arah organisasi. Yang terbayang sudah pasti tipe-tipe seperti Steve Jobs atau Richard Branson.


- Tipe Apollo (bureaucracy, role culture): ini adalah orang-orang yang bekerja sesuai aturan perusahaan, birokrasi yang terstruktur. Contoh, supervisor pajak, ya dia akan melakukan hal tersebut berulang-ulang sepanjang karirnya. Semua sudah ada regulasinya. Tipe orang seperti ini memiliki sebuah "kepuasan" jika melakukan pekerjaan sesuai aturan yang sudah digariskan.


- Tipe Athena (meritocracy, expertise): tipe ini paling banyak ditemukan di perusahaan asing, karena memang kebanyakan yang embrace meritocracy adalah perusahaan-perusahaan yang mengerti kultur tersebut. Semua ada KPI, reward dan punishment jelas, dan mereka akan mengejar hal tersebut untuk karirnya.

- Tipe Dionysus (individualism, non-corporate): tipe ini dari luar sepertinya tipe orang yang susah dikendalikan, padahal mereka memiliki vision yang mungkin lebih jauh ke depan dan juga memiliki pengetahuan di atas rata-rata. Tipe-tipe ini cocoknya menjadi pemimpin sebuah task force untuk project-project tertentu yang tidak terikat jam kerja atau mumbo jumbo corprate.


Sebuah organisasi yang sehat sepertinya memiliki balance di antara keempat tipe tersebut, inovatif tapi juga harus disiplin dalam akuntansi, mengikuti aturan tetapi juga harus ada yang bisa membimbing keluar masalah ketika ada badai menerjang. Terlihat seperti kuno, tapi dalam beberapa hal masih bisa digunakan untuk masa kini. Apalagi untuk perusahaan yang baru berdiri, butuh seorang manajer yang mampu mengerti orang-orang yang bekerja di bawahnya.

Dan tentu saja setiap organisasi tidak akan sama, tergantung sudah di level mana, di perusahaan yang sangat advance tentu sudah banyak tools-tools manajemen terbaru yang mereka gunakan, mulai Six Sigma, ESQ, Spiritual Organization, Happines Workplace Concept, dll. Namun untuk startup yang masih baru berdiri, tidak ada salahnya mencoba resep kuno yang sudah tried and tested.

So, selamat mencoba.



Sunday, June 16, 2013

Office Branding


Apple, Zappos, Innocent Drinks dan Google menjadi contoh bagaimana sebuah office space yang tadinya cuma benda mati bisa disulap mejadi branding medium yang powerful. Mungkin saat ini sudah banyak yang tahu bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut memperlakukan karyawannya dengan sangat luar biasa, tetapi hanya sedikit yang berani menerapkan strategi ini karena memang butuh biaya yang tidak sedikit.






Image: Apple Inifinite Loop - Apple Campus


Yang patut diacungi jempol tentu saja visi Manajemen yang menganggap talent harus diperlakukan dengan spesial, karena memang mempertahankan talent yang  kompeten tidak mudah. Banyak sekali opportunity di luar yang bisa membuat karyawan dengan mudah pindah ke perusahaan lain, jika dihitung tentu banyak kerugian yang terjadi dari sisi waktu, tenaga dan biaya jika seorang karyawan memutuskan untuk berhenti.


Di Indonesia juga masih jarang perusahaan yang melakukan hal tersebut, mungkin karena memang talent yang kurang dihargai di sini atau belum memiliki visi ke arah sana. Beberapa venture capitalist, media digital dan perusahaan teknologi sudah berusaha menerapkan dalam skala yang lebih kecil, beberapa agency kreatif juga membuat kantornya sekreatif mungkin supaya karyawannya betah. Namun jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Ke depannya, ketika pasar tenaga kerja skillful semakin ketat, bukan tidak mungkin akan lebih banyak lagi perusahaan lokal yang berani melakukan hal seperti Google atau Apple.



Image: Google Dublin Office



Image: Google Dublin Office



Image: Google Dublin Office


Image: Google Dublin Office


Image: Google Dublin Office




Sunday, May 19, 2013

Marketer: Part Artist & Part Scientist



Ini cerita klasik mengenai persepsi marketer, sebuah profesi yang widely misunderstood, karena karakternya yang unik dan berbeda dengan profesi lainnya.

Jika melihat struktur perusahaan besar, profesi marketer bukanlah sebuah hal yang aneh, karena hampir sebagian besar manajemen memahami bahwa mereka butuh marketing dept. untuk memberikan solusi terhadap banyak hal yang tidak dimengerti oleh CEO yang mungkin latar belakangnya finance ataupun sales. Seperti contoh dunia Branding yang tidak mudah untuk dimengerti, Advertising, Word of Mouth, PR, digital marketing, NPS, Neuroscience,  dan banyak hal baru yang muncul sesuai perkembangan jaman.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kualifikasi seorang marketer yang dibutuhkan, karena beberapa kali mencari figur marketer yang pas tidak mudah ditemukan di pasar 'skilled workers'. Infographic di atas mungkin bisa membantu menggambarkan secara ringkas profile seorang marketer. 


Marketer sebagai scientist

Marketer sebagai scientist dibutuhkan untuk manajemen operasi sehari-hari,  mendecode data pasar dan consumers serta data lain sebagai bahan untuk pengambilan keputusan. Jika latar belakang pendidikan marketer tersebut adalah ekonomi tentu lebih mudah karena hal-hal seperti statistik, ekonomi makro, ekonomi mikro, accounting, dll sudah pernah dipelajari di bangku kuliah. Meskipun bukan syarat mutlak but it really helps, karena otak orang tersebut sudah terbiasa dengan analisa data, dan ini unconsciously bekerja membantu dalam membedah pasar.

Marketer sebagai artist

Ini hal yang subtle tapi sangat berguna di dunia marketing yang membutuhkan analisa visual yang komprehensif. Mulai dari memutuskan visual untuk advertising, website, dan promo lain, kemampuan visual dan art dibutuhkan untuk menghasilkan karya yang stand out. Begitu juga kreatifitas untuk membuat sebuah campaign atau event, marketer yang memiliki kemampuan otak kanan yang baik, akan memiliki competitive advantage dibandingkan yang tidak memiliki kemampuan tersebut.


Kedua hal ini memang tidak mutlak harus ada, di perusahaan besar yang fungsi manajemen dibelah menjadi departemen-departemen, analisa bisa dihasilkan oleh product  development atau business development sehingga marketer tinggal membaca data dan melakukan eksekusi. Sedangkan untuk urusan kreatif bisa juga diserahkan ke agency, dan marketer cuma berperan sebagai manajemen yang mematuhi schedule marketing plan (sound seperti profesi yang membosankan).

Tetapi, jika berkaca pada startup business, hal ini akan sangat terasa. CEO atau owner sebuah startup/UKM yang memiliki sense art dan analisis akan memiliki keunggulan dibandingkan kompatriotnya. Hal ini karena pada ukuran bisnis tertentu seperti UKM atau startup yang masih kecil, membayar gaji marketer yang kompeten (baca: bergaji lumayan besar) adalah sebuah keputusan yang tidak mudah, karena trade-off nya dengan menggaji sales yang sudah pasti untuk jualan dan menghasilkan cash. 

Mungkin saat ini belum ada data sangat detail membandingkan performance antara startup yang memiliki marketer dan tidak. Jika ada hypothesis ini mungkin bisa lebih valid karena ada data yang berbicara, tetapi dari pengalaman beberapa startup yang didirikan oleh teman-teman, ini adalah sebuah problem yang nyata terjadi dan hampir semua mengalaminya. Setup communication structure, branding, advertising, website, photograpy, dll akan lebih mudah jika memang pendiri perusahaan memiliki kemampuan otak kanan yang baik, bagi yang tidak memiliki kemampuan tersebut, mereka harus membayar lebih mahal untuk konsultasi ataupun menyewa brand expert, photographer ataupun graphic designers.

So, selamat jika Anda memang memiliki seorang marketer di perusahaan Anda, itu adalah point keunggulan yang harus dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis.


Sunday, May 12, 2013

#throwback #infographic iPhone 5


#throwback Penjelasan Klasik beda Marketing, PR, Advertising, Branding


Posterous Ditutup




Dear Tambalbrand readers,

Mungkin yang sering membaca blog tambalbrand di posterous sedikir kecewa, karena posterous ditutup oleh twitter setelah hanya setahun diakusisi  So, satu content dari posterous akan dipindahkan ke sini. Isinya mungkin agak berat, tapi Insya Allah masih bisa dicerna oleh fans tambalbrand.

Alasan ditutupnya mungkin kurang begitu jelas, tetapi sepertinya twitter hanya fokus pada layanan microblogging twitter, company lain yang diakusisi seperti posterous dan tweetdeck pun juga ditutup. So, begitulah kenyataan di dunia, idealisme untuk membangun brand original mungkin tidak berbanding lurus dengan tujuan pemilik baru yang mengakuisisinya.

Enjoy the blog.


Hary Novianto

Thursday, May 9, 2013

Start Up Branding




Start-up atau mungkin di Indonesia lebih dikenal sebagai perusahaan yang baru berdiri terutama di bidang teknologi, atau juga banyak yang menyebutnya UKM (Usaha Kecil Milyaran) :) memiliki karakter sendiri.

Dari berbagai diskusi dengan teman-teman yang baru memulai bisnis, rata-rata memiliki 2 problem yang sama yaitu bingung dan kebingungan. Apalagi yang selama ini pekerjaannya tidak ada hubungan dengan sales, marketing dan finance/accounting, sepertinya banyak hal yang harus mereka pelajari ketika mulai berbisnis mulai bagaimana membuat laporan keuangan, bagaimana proses distribusi barang, bagaimana mencari modal, bagaimana caranya membranding usaha baru mereka, dan banyak lagi bagaimana-bagaimana yang lain yang bermunculan.

Point mengenai keuangan mungkin terlalu membosankan untuk dibahas, jadi diskusi kita fokuskan pada masalah branding. Hal ini menarik karena banyak merasa menjadi brand expert, tetapi ketika digali lebih dalam ternyata yang diketahui cuma cara membuat logo.

Step-step membuat brand yang powerful sebenarnya tidak usah menggunakan tools-tools branding yang kompleks, beberapa tools sederhana ini bisa langsung dieksekusi oleh perusahaan-perusahaan yang baru berdiri untuk check-up kesehatan brand mereka:


1. Mind Share
Tools ini cukup simple untuk para pemula, cek saja apakah brandnya sudah melakukan hal-hal sederhana ini atau belum?

a. Segmenting
Apakah sudah punya gambaran yang jelas segmen yang dituju? Jika di fashion mau bermain dimana? Baju anak, remaja, dewasa, atau lebih mature lagi.

b. Targeting
Apakah sudah yakin dengan segmen pasar yang dituju? Jika sudah efforts diarahkan ke pasar tersebut,

c. Positioning
Ini yang sedikit tricky, karena once positioning diset, maka harus konsisten dalam eksekusinya. Customer akan bingung jika setiap bulan kita berganti positioning.


2. Market Share
Proses mendapatkan market share sangat bergantung kepada strategi bisnis tersebut. Tools sederhana yang bisa dipakai antara lain selling process, marketing mix, dll. Bagi startup, trial dan error mungkin diperlukan untuk mendapatkan komposisi terbaik.


3. Heart share
Ini yang mungkin lebih berat, karena membutuhkan pengalaman, skill, dan pemahaman konsep mendapatkan heart share dari konsumen. Yang pasti brand, service process, ada di dalam tools ini. Bagi pemula, yang paling mudah dilakukan adalah mempunyai identitas brand yang clear dan service yang extraordinary.

3 tools sederhana tersebut bisa langsung dipraktekkan, coba analisa brand kita apakah sudah clear dalam  konsep dasar bisnisnya, kadang karena langsung terjun membuat usaha, ada beberapa hal yang terlewatkan, seperti positioning yang belum jelas atau pricing strategy yang tidak relevan dengan target marketnya.

Ilmu marketing dan branding sendiri sudah berkembang luas dan dalam, banyak konsep yang lebih canggih yang bisa diexplore. Satu persatu akan kita kupas di artikel tambalbrand berikutnya.


So, selamat berbisnis :)

Wednesday, April 24, 2013

Influencer Vol. 1



Mungkin sudah banyak buku membahas mengenai Word of Mouth (WOM), bahkan suhu saya, Om Sumardy sudah memberikan contoh nyata bagaimana WOM itu bekerja di dunia yang sebenarnya. Namun yang menarik, meskipun secara science hal ini sudah terbukti, tapi masih banyak mungkin belum mengerti bagaimana word of mouth bekerja dan lebih memilih bermain aman dengan traditional advertising. Hal ini tentu saja tidak sepenuhnya salah, karena tidak semua marketer menguasai teknik WOM, dan daripada diomelin bos karena sok mau menggunakan konsep baru tapi tidak mengerti implementasinya, lebih baik bermain aman dengan pasang iklan saja sebanyak-banyaknya dan berdoa.

Tapi memberikan judgement seperti hal tersebut juga tidak bijaksana, sebenarnya banyak pertanyaan yang menggelitik mengenai komponen WOM itu senditi, bagaimana message atau pesan menyebar dari satu orang ke orang lain. Malcom Gladwell menjabarkan secara rinci dalam "Tipping Point" bagaimana maven, salesman, dan connector menyebarkan sebuah pesan. Kemudian Jonah Berger di bukunya "Contagious" memperdalam teori tersebut dengan riset sosialnya dan membuktikan banyak anggapan yang salah mengenai fenomena sosial tersebut, serta membuktikan message atau pesan itu sendiri juga sangat penting tidak hanya messenger-nya.

Sinan Aral juga menulis di Harvard Business Review - May 2013, bahwa bisa saja marketer salah membidik messenger atau influencer. Sebagai contoh adalah Ashton Kutcher, selebritis yang satu ini sangat aktif di twitter dan beberapa project teknologi yang dimodalinya. Tahun 2009, Ashton berhasil mengumpulkan 10 juta follower di twitter, dan di tahun 2013 jumlahnya bertambah menjadi 13.7 juta follower. Namun jika ditanyakan ke sebagian besar followernya, belum tentu semua akan menggunakan produk-produk yang direkomendasikan oleh Ashton.

Contoh lokal lainnya adalah Agnes Monica, tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan opini negatif, namun mencoba membedahnya lewat analisis yang jujur dan sederhana. Banyak yang beranggapan dengan jumlah follower jutaan (April 2013 jumlah followernya kurang lebih 7,323,927) Agnes adalah influencer yang dahsyat, produk yang diendorse oleh Agnes pasti langsung sim salabim jadi laris.

Namun mari kita lihat satu persatu produk yang sudah di endorse oleh Agnes: Honda Vario (sepeda motor), BlackBerry Tri Hutchinson (Telekomunikasi), Olay (kosmetik), Putri Cologne (kosmetik), Jas Jus (minuman), Vitazone (minuman energi), Enervon C (supplement), CSL Blueberry (ponsel), Chitatos (snack), Oops (snack), Zink (shampo), Exoticon (contact less), dan LG (elektronik), Dell Computer, Clear Shampoo (toiletries), Kopi Kapal Api, Simpati (Telkomsel), dll.

Jika kita tanya diri sendiri, dari semua brand tersebut belum tentu kita mau untuk menggunakan produk yang direkomendasikan oleh Agnes dan belum tentu juga brand tersebut langsung jadi market leader, meskipun tentu saja kita menjadi aware bahwa produk tersebut ada. Bisa saja pilihan sepeda motor kita adalah Yamaha, atau snack lebih suka dengan Pringles, atau elektronik sudah pasti memilih Apple. So, ini adalah sebuah misteri yang ingin dipecahkan oleh Marketer, penggunaan Klout atau Peer Index adalah salah satu effort untuk cracking the mystery, dan saya yakin banyak lagi analytical tools yang digunakan oleh para marketer untuk memecahkan hal ini.

Nanti akan kita bahas lebih dalam lagi di artikel Influencer Vol. 2 mengenai influencer.

Selamat pagi dan salam.