Tuesday, October 23, 2012

Newsweek and the age of surplus economy




Newsweek versi cetak ditutup.

Kematian media cetak mungkin sudah diprediksi oleh banyak orang dengan semakin berkembangnya majalah atau koran berbasis internet. Tetapi tetap saja berita ditutupnya sebuah media terkemuka, dengan cover majalah yang menjadi icon dunia, terasa mengagetkan.

Sejak kertas ditemukan di China ribuan tahun yang lalu dan Johan Guttenberg menemukan mesin cetak tahun 1455 dan majalah pertama terbit tahun 1663, media cetak menjadi favorit manusia untuk menyampaikan pesan dari satu manusia ke manusia yang lain.

Namun dalam perkembangannya, jumlah media cetak meledak, tak terkontrol. Masing-masing segmen umat manusia sepertinya memiliki majalah. Di Amerika, Newsweek harus bersaing dengan 10,000 majalah dengan hanya 2,000 di antaranya yang memiliki sirkulasi yang signifikan. Di Indonesia sebanyak kurang lebih 256 majalah resmi yang kira-kira tercatat, dengan hanya segelintir majalah yang mungkin memiliki oplah yang memadai untuk menunjang hidupnya.

Yang menjadi masalah adalah semuanya hidup dari iklan, dan jumlah pengiklan sangatlah terbatas dengan kompetisi ketat dari media lainnya. Apalagi di era internet dan mobility, hidup manusia semakin jauh dari kertas, baca majalah tinggal buka businessweek.com, fastcompany.com, tempo, time, dll via iPad atau smartphone tanpa harus membeli edisi cetaknya yang merepotkan. Di launching iPad Mini terbaru, Apple bahkan mengumumkan telah memiliki 1.500.000 judul buku di iBookstore. Keberadaan media cetak semakin terdesak.

Ini belum bicara perhatian konsumen, dengan bombardir pesan yang menurut studi Fortune Magazine sekitar 300 pesan per hari atau 109,500 pesan dalam setahun, perhatian konsumen terhadap pesan yang disampaikan menjadi sebuah barang langka.

The surplus economy tidak hanya terjadi di majalah, juga terjadi di banyak sisi kehidupan manusia yang lain. Jumlah tenaga kerja yang semakin banyak memasuki pasar, jumlah produk yang dilaunch setiap tahunnya semain bertambah. Sony pernah meluncurkan 5,000 produk baru dalam setahun, P&G memiliki jumlah scientist melebihi total ilmuwan di seluruh Harvard, MIT, dan Berkeley.

Di era dengan hypercompetition seperti sekarang, brand management menjadi penting. Memiliki identitas yang unik dan beda dengan yang lain menjadi salah satu jalan keluar dari terkaman begitu banyak pesaing. Kalau brand kita dipersepsi sama saja dengan yang lain, itu adalah tanda-tanda kematian yang sudah semakin dekat. 

Saturday, October 6, 2012

Return of the Jedi: Menuju DKI 1




Setelah lebaran, diskusi teman-teman Marketing Club sepertinya kembali mengarah ke pemilihan gubernur Jakarta yang baru. Pertarungan Jokowi vs. Foke ini adalah momen yang tak boleh dilewatkan oleh para Marketing Genius di grup BBM Marketing Club.
 Mari kita kupas satu persatu dengan skor ala pertandingan sepak bola.
1.  Pertarungan Branding
       Skor: Jokowi 1 – Foke 0
Terus terang belum pernah Foke mengutarakan dengan crystal clear mau dibawa kemana DKI ini. Mau dibranding seperti apa juga tidak jelas. Program Busway tidak jelas, membuat jalan layang tidak mengatasi kemacetan, malah tambah bikin macet, banjir besar dibilang genangan, asap Metromini yang hitam pekat dan semakin reot membuat wajah Jakarta semakin buruk.
Sedangkan Jokowi, dari awal beliau sudah menegaskan berkali-kali, Jakarta harus dibranding dengan jelas supaya program pemerintah menjadi lebih terarah. Visi beliau adalah menjadikan Jakarta sebagai kota festival dan pusat busana muslim berskala global. Serta transportasi dibenahi sesuai cetak biru yang sudah dibuat (video Jakarta baru Jokowi bisa dilihat di sini).
 Dua hal pertama sangatlah achievable dan hanya perlu didorong sedikit: Yang pertama sabagai kota festival, banyak pertunjukkan beskala Internasional yang sukses diadakan di Jakarta mulai konser band (dari kontroversi Lady Gaga sampai di bulan Ramadan pun ada konser The Cardigan dengan penonton yang membludak), sepakbola Internasional (kunjungan legenda AC Milan, Inter Milan, Valencia, dll), Disney on Ice, Jakarta FashionWeek, Festival Film Internasional  (Jiffest) dll.
 Yang kedua, sebagai pusat busana muslim global, Indonesia dan Jakarta banyak memiliki desainer muslim yang sangat kreatif dan maju di bidangnya. Mulai SimplyMii, Mainland Heritage, Indij, Nabilia, , deeAndra, Dian Pelangi, Jenahara, Treimee, Ria Miranda, Kivitz, Irna Mutiara (Ina Scarf, Ina La Perle, Up2Date), Jenny Tjahyawati, dan masih banyak lainnya. Ini adalah potensi bangsa yang sangat cerdas dilirik oleh Jokowi. Bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore hanya bisa melirik dengan iri akan potensi kreatif busana muslim Indonesia.

 2.  Pertarungan di Media
    Skor: Jokowi 1 – Foke 0
 Media dan rakyat Indonesia mayoritas menyukai pemimpin yang rendah hati dan memihak kepada rakyat.  Jurus ndeso Jokowi sangatlah memikat media dan rakyat Jakarta yang sudah penat dengan kemacetan, korupsi dan arogansi para penguasa.
 Tim Jokowi juga selalu berhasil meng-counter berita negatif dengan elegan. Sedangkan Foke berkali-kali menjadi bulan-bulanan media, mulai kasus kebakaran Benhil (video di sini)sampai caci-maki masyarakat di detik.com dan kompas.com setiap Foke dan pendukungnya berkomentar.
 Seharusnya tim sukses dan tim PR Foke mengarahkan beliau untuk lebih humble dan mensosialisasikan program-program yang memang prioritas untuk rakyat Jakarta. Mungkin justru banyak kerja keras beliau yang selama ini tidak terliput oleh media.

 3. Pertarungan di lapangan
   Skor Imbang: Jokowi 1 -  Foke 1
 Point ini terkait dengan kerja keras tim sukses masing-masing calon. Tim Foke dan Jokowi memiliki strategi masing-masing. Kalau tim Jokowi menggunakan Blackberry Messenger untuk menyampaikan program ke kalangan menengah ke atas, dan VCD untuk masyarakat menengah ke bawah. Tim Foke menggunakan spanduk untuk menjaring pemilih fanatik dari majelis taklim. Rhoma Irama sibuk berkeliling masjid sambil menjaring dukungan. Pada pertarungan pertama Jokowi unggul, karena timnya all out. Pada putaran kedua masih harus dilihat lagi, apakah isu pemimpin muslim yang diangkat oleh Foke menjadi jurus yang ampuh di level grass root.

4.  Pertarungan Parpol pendukung
    Skor: Jokowi 0 – Foke 1, Foke unggul di sini.
 Fauzi Bowo mendapatkan dukungan masif di putaran kedua, Golkar, PKB, PKS, Demokrat, PAN, PPP semuanya sepakat mendukung beliau. Ini hal yang lucu karena pada putaran pertama, pada saat masing-masing parpol tersebut memiliki calon masing-masing (Hidayat Nur Wahid  - Didik J. Rachbini didukung PKS, Alex Nurdin – Nono Sampono didukung Golkar) semuanya balapan menghujat Bang Kumis. Namun itulah Politik, tidak ada lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Kekuatan jaringan Demokrat, Golkar, PKS dan lain-lain akan dikerahkan di putaran kedua. Siapa yang cerdik akan memenangkan pertarungan di lapangan.

5.  Black Campaign
            Skor: Jokowi 1 – Foke 0
Dari sisi Brand Science, ini sebenarnya justru faktor minus untuk Foke.  Karena tim Jokowi so far berhasil membuat tangkisan jitu untuk semua smash kampanye hitam yang diarahkan pada Walikota Solo ini. Isu pemimpin Muslim yang ditiupkan Rhoma, berbalik menjadi bumerang karena sang Raja Dangdut akhirnya justru diperiksa Panwaslu dan dihujat masyarakat. Pemilihan Rhoma sebagai penghembus isu juga kurang tepat, karena banyak masyarakat yang masih ingat kasus kawin sirinya dengan Angel Lelga. Mungkin jika yang menghembuskan ulama yang lebih bersih, hasilnya mungkin akan lain.
Taktik mengenai umat muslim harusnya dipimpin yang juga muslim juga berhasil dicounter Jokowi dengan pergi umrah ke tanah suci plus pesan kreatif melalui Blackberry Messenger: sebuah wawancara imajiner dengan Gus Dur; “Gitu aja kok repot nyari pemimpin yang amanah, yang umat muslim semuanya pilih aja Jokowi, nah yang Kristen tinggal pilih si Ahok”.
Black Campaign ini menjadi senjata makan tuan, karena mudah diindetifikasi sumbernya, karena hanya ada dua pihak yang bertarung yaitu entah Jokowi atau Foke. Beda dengan black campaign di  industri misalnya makanan dan minuman yang memiliki banyak kompetitor, jadi sulit diendus sumbernya (contoh heboh kasus Teh Botol dan pengawet di Mizone).
Efek samping akibat sibuk dengan black campaign, justru spirit David yang tertindas vs. Goliath yang zalim, menjadi faktor yang  menguntungkan buat Jokowi, ditambah lagi jadi makin tidak jelas apa program si Goliath (Foke) ini, karena yang diingat masyarakat kesibukannya membunuh karakter kandidat lainnya.

So, dengan final skor 4 – 2 sepertinya kemenangan “di-atas-kertas” adalah untuk Pak Jokowi, namun tentu saja ini hanya di atas kertas, banyak faktor lain yang bisa membalikkan keadaan seperti kecurangan di surat suara, parpol yang mengerahkan mesin partai, money politic, dll. 
Semoga analisis sederhana ini tidak bias dan mari kita nikmati pertarungan Pilkada bulan September nanti.

Salam.

Friday, October 5, 2012

Retail Experience




Topik ini mungkin sudah sering dibahas, banyak pengalaman buruk maupun manis yang dialami konsumen ketika mengunjungi sebuah retail outlet, dan sudah banyak case study yang dibedah. Namun, ketika kita memiliki kesempatan untuk mengelola sebuah retail business, banyak hal yang kadang luput dari pengamatan kita sebagai brand owner maupun retail manager.
1. Outlet akan lebih sulit berkembang jika hanya sekedar menjadi outlet.
Hal ini sepertinya berlaku untuk produk premium atau mass premium, meskipun untuk retail produk menengah ke bawah seperti toko Indomaret maupun Alfamart mungkin tidak terlalu signifikan.
Contoh yang paling mudah adalah Apple, retail brand ini menjadi contoh paling mudah, karena menjadi gold standard untuk pengelolaan retail dan profitability. Sales Apple store mencapai rekor tertinggi di US, sekitar $5,647 per foot square. Hal ini bukanlah kebetulan karena Steve Jobs mendesain Appel Store dengan cermat, bahkan dalam biografi Steve Jobs disebutkan prototype Apple Store dibongkar pasang berulang-ulang sampai ketemu desain paling ideal, setiap cm diperhatikan dengan detail. Tak heran jika sekarang Apple Store bagaikan sebuah kuil bagi para fans loyal Apple, tidak sekedar outlet biasa.
Namun Distro Crooz di kawasan Duren Tiga menjadi contoh real, bagaimana sebuah bisnis retail lokal merangkul fans loyal dan juga mengelola penggemar band-band Indie sehingga menjadi customer loyal mereka. Crooz merangkul band Pee Wee Gaskins dan Killing Me Inside yang terbukti menjadi model bisnis yang sustainable buat mereka. Customer Crooz menganggap outlet ini tidak hanya sekedar outlet, namun sebuah pengalaman mereka untuk berkomunikasi dengan band idaman.
2. Human sebagai Asset.
Mengelola manusia sebagai asset juga tidak mudah, karena setiap manusia memiliki pemahaman yang berbeda akan suatu brand. Tentu referensi dari setiap manusia adalah pengalaman mereka sebelumnya, jika biasa memegang toko kelontong, tentu butuh waktu untuk memahami proses bisnis jika disuruh memegang outlet GAP.
Kunci di sini adalah determinasi dan long-term-training. Hal ini sudah terbukti, apalagi di Indonesia, kebanyakan karyawan akan mengeluh ataupun malas jika disuruh ikut training. Padahal sebagai owner kita menginginkan layanan yang prima untuk semua customer. Long term training dikombinasikan dengan praktek di tempat kerja ternyata lebih efektif untuk meningkatkan standar layanan sebuah outlet.
Ritz Carlton di sini menjadi salah satu referensi dalam hal servis, karena hampir di semua cabang Ritz Carlton kita mendapatkan pengalaman serupa yang berkualitas. Mempelajari best practice di hospitality industry seperti Ritz Carlton akan menjadi pengalaman yang unik bagi brand di industri lain.
3. Human Touch.
Sekali lagi, pasar membuktikan brand-brand yang memperhatikan kebutuhan konsumennya, dan memiliki empati kepada customer mereka memiliki profitability yang lebih tinggi. Human Touch ini memang sulit untuk diajarkan, karena terkait dengan personalilty seseorang. 
Dibutuhkan brainwash yang terus menerus supaya kultur melayani konsumen ini bisa mendarah daging dalam diri karyawan. Bank Niaga telah berhasil memberikan standar yang tinggi untuk servis, dari satpam sampai teller memberikan salam dan sapaan hangat kepada konsumen. 
Zappos juga memiliki filosofi untuk "memanusiakan karyawan". Mereka bahkan sudah lebih advance dengan menjadikan happines sebagai DNA perusahaan. Ini tidak mudah, butuh tahunan bagi Tony Hsieh untuk menanamkan ide ini. Begitu juga yang dilakukan oleh Singapore Airlines dan Blue Bird, human touch menjadi differentiator mereka di persaingan pasar penerbangan dan pasar taxi yang sangat keras.
Ketiga hal di atas adalah hal yang paling krusial untuk diperhatikan. Kesuksesan sebuah brand berawal dari kemampuan mereka memanage ujung tombak penjualan ini. Secara konsep di atas kertas, semua brand bisa melakukannya, tetapi hanya sedikit brand yang mampu mengeksekusi konsep ini menjadi the winning business model.
Happy Eid Mubarak, mohon maaf lahir dan batin.