Thursday, March 29, 2012

Konsistensi di tengah inkonsistensi

Okay, jika sebuah brand sudah memiliki produk, nama, logo, warna, dan toko so what's next?


Konsistensi, ini adalah hal yang mudah tapi sulit, sulit tapi mudah. Alasan utama konsistensi adalah keterbatasan memori manusia. Contoh paling simpel, saat kita SD, kita harus belajar berulang-ulang untuk menghafalkan nama-nama ibukota dan bendera negara, hafalan yang dipaksa oleh bu guru itu saja masih bisa salah pada saat ujian. Jadi bayangkan saja, dalam kondisi dipaksa dan harus mendapatkan nilai bagus untuk lulus saja, kita masih bisa salah menyebutkan ibukota suatu negara apalagi menyebutkan nama brand yang sifatnya sukarela dan dalam situasi butuh gak butuh.

Di sinilah konsistensi diperlukan, walaupun tidak mesti semua elemen dalam brand harus konsisten, tetapi janji utama brand tersebut kepada konsumen haruslah konsisten.

Contoh yang seru adalah Google, kalau diperhatikan, logo Google di mesin pencari di website mulai sering berganti-ganti sesuai occasion yang sedang terjadi, misalnya dalam rangka memperingati lahirnya Sir Isaac Newton, logo Google di adjust sesuai hasil penemuan Newton, dll. Tetapi kalau kita jeli ada hal-hal yang tak dirubah oleh Google, search engine mereka tetap memberikan hasil pencarian yang akurat, website secara general tidak mengalamai perubahan, tetap simpel, dengan warna putih sebagai warna primer dan fokus pada jualan utama mereka yaitu sebagai search engine, dan tidak melebar kemana-mana seperti Yahoo! Konsistensi dalam mengkomunikasikan nilai dan janji brand membuat nama brand Google terpatri erat di benak konsumen.

Contoh lain, jika kita ingat mobil yang paling top di dunia, tentu saja mobil Jerman seperti Mercedez, BMW dan Volkswagen akan langsung teringat. Jika kita menginginkan alat rumah tangga elektronik yang berkualitas, tentu saja merek-merek Jepang seperti Sony, Panasonic dan Sanyo akan nongol di kepala kita. Begitu juga dengan parfum, kita ingat brand-brand Prancis seperti Chanel, Dior, Lancome, dsb. Ingatan kita kepada hal tersebut tidak dibangun dalam satu malam, butuh kekuatan untuk tetap konsisten dalam beberapa puluh tahun atau bahkan ratusan tahun. Chanel sendiri jatuh bangun dalam membangun bisnisnya, begitu juga Mercedes, BMW, Volkswagen dan Sony.

Bagi brand yang baru berdiri, mencari elemen janji dan nilai yang akan dibuat konsisten memang tidak mudah, tapi semua dikembalikan kepada identitas apa yang mau di berikan kepada konsumen. Jika memang mau menjadi merek yang cool, tentu iklan yang cool atau display yang keren menjadi wajib, beberapa brand fashion lokal seperti Goods Dept., Valentino, Biyan, dll sadar akan hal ini. Jika mau konsisten menjadi jagoan ayam, KFC sangat konsisten dalam hal ayam. Jika mau menjadi jagoan kopi, Starbucks sangat fokus dalam berbisnis kopi. Jika mau konsisten dalam berkumis, Fauzi Bowo sangat konsisten, bahkan dalam kampanye sebagai gubernur pernah menggunakan slogan "coblos kumisnya".

So, ini adalah proses pencarian jati diri (identity), mungkin bisa cepat ditemukan atau malah setelah beberapa dekade baru ditemukan, Citibank sebagai contoh, awalnya target konsumen mereka adalah 30% retail consumer dan 70% corporate, tetapi mereka baru sadar akan kekuatan mereka di retail banking dan akhirnya merubah fokus konsumen mereka menjadi  70% retail dan 30% corporate. Jadi tidak ada kata terlambat, selamat bereksplorasi.

No comments:

Post a Comment