Monday, December 31, 2012

Ide Bisa Datang Dari Mana Saja




Minggu lalu di kota kembang, disela-sela obrolan santai diselingi permainan basket bersama bos salah satu TV Lokal ada satu topik diskusi yang sepertinya sering terlewatkan, yaitu Ide.

Ide menurut arti harfiahnya bisa diartikan sebuah konsep mental, ekspresi pemikiran manusia, bisa dalam bentuk abstrak ataupun image sebuah objek. Kemampuan manusia untuk mencetuskan dan memahami sebuah ide inilah yang mungkin membedakannya dengan makhluk lain di dunia.

Ide bisa datang dari mana saja, tidak mesti berkutat di laboratorium canggih ala IronMan, Batman ataupun X-Men atau juga menghabiskan seharian penuh nongkrong di perpustakaan. Sir Isaac Newton mendapatkan ide ketika duduk di bawah pohon Apel, yang melahirkan teori gravitasi yang mendunia itu.

Prof. Ir. Sedyatmo mungkin awalnya menemukan ide membuat “pondasi cakar ayam” untuk landasan bandara Soekarno-Hatta dan landasan bandara Juanda ketika makan sop ceker ayam dan minum es kelapa muda. Bentuk pondasi tersebut memang mirip cakar ayam dan konstruksi beton mirip akar pohon kelapa.

Obrolan bisnis bersama rekan-rekan sesama pebisnis bisa melahirkan ide yang brilian, jangan sepelekan hal ini karena banyak brand berskala global lahir dari obrolan-obrolan ringan.  Volkswagen Golf GTI yang legendaris lahir dari obrolan makan siang engineer-engineer Jerman iseng yang kebetulan suka mobil kencang. Bill Hewlett dan David Packard memulai bisnis mereka dari garasi rumah,  bahkan mereka iseng voting nama perusahaan dengan menggunakan lemparan koin uang. Jika tebakan David yang menang maka nama brand akan menjadi Packard-Hewlett, begitu juga sebaliknya jika Bill yang menang maka brand salah satu pionir Silicon Valley ini akan menjadi Hewlett-Packard dan sisanya adalah sejarah.

So, jangan sepelekan obrolan ringan dengan sesama pebisnis karena we never know mungkin saja itu menjadi awal sebuah ide yang brilian.

Saturday, November 10, 2012

A short story of startup business




Startup business atau new business atau new ventures, kurang lebih memiliki arti yang sama yaitu sebuah bisnis baru. Meskipun istilah ini lebih dikenal untuk industri teknologi, namun industri lain yang tidak berbau teknologi masih bisa dikategorikan dalam makna yang serupa.

Seperti Christoper Columbus yang ingin menaklukan dunia, pergi ke barat dan menemukan benua Amerika (walaupun tidak sengaja) atau Kapten Jack Sparrow yang ingin menemukan rahasia "The Fountain of Youth" di samudera yang tak bertepi, mereka semua memiliki kesamaan semangat yaitu api yang menyala-nyala di dalam dada untuk menaklukan dunia.

Kalau kita kebetulan nonton acara Dragon Den di BBC Knowledge, ada begitu banyak orang yang memiliki mimpi untuk memiliki sebuah usaha sendiri. Mulai dari bisnis sushi-in-the-box, ayunan bayi, event organizer, advertising company, pakaian, toys, dll. Semua orang-orang tersebut juga memiliki semangat yang sama dengan Columbus, ada sebuah mimpi yang ingin diwujudkan.

Kebetulan, personally saya juga melakukan hal yang sama setelah berkelana selama 11 tahun di dunia korporasi, yaitu mewujudkan mimpi yang sudah lama ingin direalisasikan. Ada idealisme untuk membangun sebuah brand dari nol dan membuat perusahaan yang "fun" sebagai tempat untuk bekerja.

Kalau dibandingkan, sebenarnya proses bisnis selama kita berada di dunia korporasi dan bisnis yang kita buat sendiri kurang lebih memiliki pattern yang serupa, walaupun tentu saja dalam kondisi yang berbeda yakni Marketing dan sales menjadi ujung tombak perusahaan, didukung oleh produksi, finance, accounting, HR, GA, dll. Jika di korporasi masing-masing fungsi dipegang oleh orang yang berbeda, di startup business mungkin pendirinya yang akan memegang dan menjalankan semua fungsi tersebut. 

Nah, setelah melakukan pengamatan terhadap beberapa startup bisnis, maka new ventures yang sukses memiliki balance antara marketing dan sales sebagai ujung tombak dengan supporting seperti accounting, finance, HR, production, customer service, dll.  Ibarat permainan sepakbola, antara offense (sales dan marketing) dengan defense (keuangan, produksi, manufaktur, HR, dll) haruslah seimbang. Menyerang terus ke depan tanpa memperhatikan lini belakang, pasti akan kebobolan. Begitu juga terlalu defensive, sibuk dengan lini belakang, bingung begitu akan mencetak gol, terlalu jauh jarak yang harus dikejar sampai ke gawang lawan. 

Jika hanya paham produksi, biasanya akan keteteran untuk marketing dan salesnya, ujung-ujungnya bisnis baru itu mungkin hanya menjadi tempat produksi untuk merek lain. Jika hanya mengurusi sales dan marketing, maka bisnis akan kedodoran karena keuangan dan produksi berdarah-darah.

Ini sepertinya terlihat sepele, namun kesalahan ini terjadi berulang-ulang di banyak startup. Entah karena malas bertanya, atau terlalu pede dengan kemampuan diri sendiri. Padahal di tahap "the valley of death" mencari mentor yang tepat akan membantu bisnis itu bergerak. At least bisa terhindar dari kesalahan elementer yang pernah dilakukan oleh startup lainnya.   

Contoh paling mudah untuk dipahami mungkin ada di film Schindler's List, Mr. Oskar Schindler (Liam Neeson) bisa menyelamatkan nyawa 1.100 orang Yahudi dengan mendirikan perusahaan penyuplai alat-alat militer rezim Nazi Jerman, Mr. Schindler yang menjadi sales dan marketing dengan kemampuan lobby-nya terhadap Jenderal-jenderal Jerman, sedangkan Itzhak Stern (Ben Kingsley) yang menjadi otak finance dan produksi perusahaan tersebut. 

Moral storynya adalah mencari partner yang tepat dan bisa saling mengisi akan menjadi modal awal yang berharga bagi sebuah startup untuk berkembang. Apalagi jika memiliki mentor yang bisa membantu mencari funding dan solusi bisnis lainnya untuk perusahaan tersebut, seperti Mark Zuckerberg, pendiri facebook yang banyak dibantu oleh Sean Parker pendiri Napster, dan Steve Jobs yang dibantu Ross Perot pada saat awal bisnis tersebut baru dibuat. Memperkuat perusahaan dengan tidak berhenti belajar di semua sisi yang berhubungan dengan bisnis akan membuat bisnis tersebut menjadi semakin berkembang.

So, selamat mengarungi lautan bisnis untuk mencari "The Fountain of Youth" seperti yang dilakukan oleh Captain Jack Sparrow, the Pirates of Caribbean. 

Tuesday, October 23, 2012

Newsweek and the age of surplus economy




Newsweek versi cetak ditutup.

Kematian media cetak mungkin sudah diprediksi oleh banyak orang dengan semakin berkembangnya majalah atau koran berbasis internet. Tetapi tetap saja berita ditutupnya sebuah media terkemuka, dengan cover majalah yang menjadi icon dunia, terasa mengagetkan.

Sejak kertas ditemukan di China ribuan tahun yang lalu dan Johan Guttenberg menemukan mesin cetak tahun 1455 dan majalah pertama terbit tahun 1663, media cetak menjadi favorit manusia untuk menyampaikan pesan dari satu manusia ke manusia yang lain.

Namun dalam perkembangannya, jumlah media cetak meledak, tak terkontrol. Masing-masing segmen umat manusia sepertinya memiliki majalah. Di Amerika, Newsweek harus bersaing dengan 10,000 majalah dengan hanya 2,000 di antaranya yang memiliki sirkulasi yang signifikan. Di Indonesia sebanyak kurang lebih 256 majalah resmi yang kira-kira tercatat, dengan hanya segelintir majalah yang mungkin memiliki oplah yang memadai untuk menunjang hidupnya.

Yang menjadi masalah adalah semuanya hidup dari iklan, dan jumlah pengiklan sangatlah terbatas dengan kompetisi ketat dari media lainnya. Apalagi di era internet dan mobility, hidup manusia semakin jauh dari kertas, baca majalah tinggal buka businessweek.com, fastcompany.com, tempo, time, dll via iPad atau smartphone tanpa harus membeli edisi cetaknya yang merepotkan. Di launching iPad Mini terbaru, Apple bahkan mengumumkan telah memiliki 1.500.000 judul buku di iBookstore. Keberadaan media cetak semakin terdesak.

Ini belum bicara perhatian konsumen, dengan bombardir pesan yang menurut studi Fortune Magazine sekitar 300 pesan per hari atau 109,500 pesan dalam setahun, perhatian konsumen terhadap pesan yang disampaikan menjadi sebuah barang langka.

The surplus economy tidak hanya terjadi di majalah, juga terjadi di banyak sisi kehidupan manusia yang lain. Jumlah tenaga kerja yang semakin banyak memasuki pasar, jumlah produk yang dilaunch setiap tahunnya semain bertambah. Sony pernah meluncurkan 5,000 produk baru dalam setahun, P&G memiliki jumlah scientist melebihi total ilmuwan di seluruh Harvard, MIT, dan Berkeley.

Di era dengan hypercompetition seperti sekarang, brand management menjadi penting. Memiliki identitas yang unik dan beda dengan yang lain menjadi salah satu jalan keluar dari terkaman begitu banyak pesaing. Kalau brand kita dipersepsi sama saja dengan yang lain, itu adalah tanda-tanda kematian yang sudah semakin dekat. 

Saturday, October 6, 2012

Return of the Jedi: Menuju DKI 1




Setelah lebaran, diskusi teman-teman Marketing Club sepertinya kembali mengarah ke pemilihan gubernur Jakarta yang baru. Pertarungan Jokowi vs. Foke ini adalah momen yang tak boleh dilewatkan oleh para Marketing Genius di grup BBM Marketing Club.
 Mari kita kupas satu persatu dengan skor ala pertandingan sepak bola.
1.  Pertarungan Branding
       Skor: Jokowi 1 – Foke 0
Terus terang belum pernah Foke mengutarakan dengan crystal clear mau dibawa kemana DKI ini. Mau dibranding seperti apa juga tidak jelas. Program Busway tidak jelas, membuat jalan layang tidak mengatasi kemacetan, malah tambah bikin macet, banjir besar dibilang genangan, asap Metromini yang hitam pekat dan semakin reot membuat wajah Jakarta semakin buruk.
Sedangkan Jokowi, dari awal beliau sudah menegaskan berkali-kali, Jakarta harus dibranding dengan jelas supaya program pemerintah menjadi lebih terarah. Visi beliau adalah menjadikan Jakarta sebagai kota festival dan pusat busana muslim berskala global. Serta transportasi dibenahi sesuai cetak biru yang sudah dibuat (video Jakarta baru Jokowi bisa dilihat di sini).
 Dua hal pertama sangatlah achievable dan hanya perlu didorong sedikit: Yang pertama sabagai kota festival, banyak pertunjukkan beskala Internasional yang sukses diadakan di Jakarta mulai konser band (dari kontroversi Lady Gaga sampai di bulan Ramadan pun ada konser The Cardigan dengan penonton yang membludak), sepakbola Internasional (kunjungan legenda AC Milan, Inter Milan, Valencia, dll), Disney on Ice, Jakarta FashionWeek, Festival Film Internasional  (Jiffest) dll.
 Yang kedua, sebagai pusat busana muslim global, Indonesia dan Jakarta banyak memiliki desainer muslim yang sangat kreatif dan maju di bidangnya. Mulai SimplyMii, Mainland Heritage, Indij, Nabilia, , deeAndra, Dian Pelangi, Jenahara, Treimee, Ria Miranda, Kivitz, Irna Mutiara (Ina Scarf, Ina La Perle, Up2Date), Jenny Tjahyawati, dan masih banyak lainnya. Ini adalah potensi bangsa yang sangat cerdas dilirik oleh Jokowi. Bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore hanya bisa melirik dengan iri akan potensi kreatif busana muslim Indonesia.

 2.  Pertarungan di Media
    Skor: Jokowi 1 – Foke 0
 Media dan rakyat Indonesia mayoritas menyukai pemimpin yang rendah hati dan memihak kepada rakyat.  Jurus ndeso Jokowi sangatlah memikat media dan rakyat Jakarta yang sudah penat dengan kemacetan, korupsi dan arogansi para penguasa.
 Tim Jokowi juga selalu berhasil meng-counter berita negatif dengan elegan. Sedangkan Foke berkali-kali menjadi bulan-bulanan media, mulai kasus kebakaran Benhil (video di sini)sampai caci-maki masyarakat di detik.com dan kompas.com setiap Foke dan pendukungnya berkomentar.
 Seharusnya tim sukses dan tim PR Foke mengarahkan beliau untuk lebih humble dan mensosialisasikan program-program yang memang prioritas untuk rakyat Jakarta. Mungkin justru banyak kerja keras beliau yang selama ini tidak terliput oleh media.

 3. Pertarungan di lapangan
   Skor Imbang: Jokowi 1 -  Foke 1
 Point ini terkait dengan kerja keras tim sukses masing-masing calon. Tim Foke dan Jokowi memiliki strategi masing-masing. Kalau tim Jokowi menggunakan Blackberry Messenger untuk menyampaikan program ke kalangan menengah ke atas, dan VCD untuk masyarakat menengah ke bawah. Tim Foke menggunakan spanduk untuk menjaring pemilih fanatik dari majelis taklim. Rhoma Irama sibuk berkeliling masjid sambil menjaring dukungan. Pada pertarungan pertama Jokowi unggul, karena timnya all out. Pada putaran kedua masih harus dilihat lagi, apakah isu pemimpin muslim yang diangkat oleh Foke menjadi jurus yang ampuh di level grass root.

4.  Pertarungan Parpol pendukung
    Skor: Jokowi 0 – Foke 1, Foke unggul di sini.
 Fauzi Bowo mendapatkan dukungan masif di putaran kedua, Golkar, PKB, PKS, Demokrat, PAN, PPP semuanya sepakat mendukung beliau. Ini hal yang lucu karena pada putaran pertama, pada saat masing-masing parpol tersebut memiliki calon masing-masing (Hidayat Nur Wahid  - Didik J. Rachbini didukung PKS, Alex Nurdin – Nono Sampono didukung Golkar) semuanya balapan menghujat Bang Kumis. Namun itulah Politik, tidak ada lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Kekuatan jaringan Demokrat, Golkar, PKS dan lain-lain akan dikerahkan di putaran kedua. Siapa yang cerdik akan memenangkan pertarungan di lapangan.

5.  Black Campaign
            Skor: Jokowi 1 – Foke 0
Dari sisi Brand Science, ini sebenarnya justru faktor minus untuk Foke.  Karena tim Jokowi so far berhasil membuat tangkisan jitu untuk semua smash kampanye hitam yang diarahkan pada Walikota Solo ini. Isu pemimpin Muslim yang ditiupkan Rhoma, berbalik menjadi bumerang karena sang Raja Dangdut akhirnya justru diperiksa Panwaslu dan dihujat masyarakat. Pemilihan Rhoma sebagai penghembus isu juga kurang tepat, karena banyak masyarakat yang masih ingat kasus kawin sirinya dengan Angel Lelga. Mungkin jika yang menghembuskan ulama yang lebih bersih, hasilnya mungkin akan lain.
Taktik mengenai umat muslim harusnya dipimpin yang juga muslim juga berhasil dicounter Jokowi dengan pergi umrah ke tanah suci plus pesan kreatif melalui Blackberry Messenger: sebuah wawancara imajiner dengan Gus Dur; “Gitu aja kok repot nyari pemimpin yang amanah, yang umat muslim semuanya pilih aja Jokowi, nah yang Kristen tinggal pilih si Ahok”.
Black Campaign ini menjadi senjata makan tuan, karena mudah diindetifikasi sumbernya, karena hanya ada dua pihak yang bertarung yaitu entah Jokowi atau Foke. Beda dengan black campaign di  industri misalnya makanan dan minuman yang memiliki banyak kompetitor, jadi sulit diendus sumbernya (contoh heboh kasus Teh Botol dan pengawet di Mizone).
Efek samping akibat sibuk dengan black campaign, justru spirit David yang tertindas vs. Goliath yang zalim, menjadi faktor yang  menguntungkan buat Jokowi, ditambah lagi jadi makin tidak jelas apa program si Goliath (Foke) ini, karena yang diingat masyarakat kesibukannya membunuh karakter kandidat lainnya.

So, dengan final skor 4 – 2 sepertinya kemenangan “di-atas-kertas” adalah untuk Pak Jokowi, namun tentu saja ini hanya di atas kertas, banyak faktor lain yang bisa membalikkan keadaan seperti kecurangan di surat suara, parpol yang mengerahkan mesin partai, money politic, dll. 
Semoga analisis sederhana ini tidak bias dan mari kita nikmati pertarungan Pilkada bulan September nanti.

Salam.

Friday, October 5, 2012

Retail Experience




Topik ini mungkin sudah sering dibahas, banyak pengalaman buruk maupun manis yang dialami konsumen ketika mengunjungi sebuah retail outlet, dan sudah banyak case study yang dibedah. Namun, ketika kita memiliki kesempatan untuk mengelola sebuah retail business, banyak hal yang kadang luput dari pengamatan kita sebagai brand owner maupun retail manager.
1. Outlet akan lebih sulit berkembang jika hanya sekedar menjadi outlet.
Hal ini sepertinya berlaku untuk produk premium atau mass premium, meskipun untuk retail produk menengah ke bawah seperti toko Indomaret maupun Alfamart mungkin tidak terlalu signifikan.
Contoh yang paling mudah adalah Apple, retail brand ini menjadi contoh paling mudah, karena menjadi gold standard untuk pengelolaan retail dan profitability. Sales Apple store mencapai rekor tertinggi di US, sekitar $5,647 per foot square. Hal ini bukanlah kebetulan karena Steve Jobs mendesain Appel Store dengan cermat, bahkan dalam biografi Steve Jobs disebutkan prototype Apple Store dibongkar pasang berulang-ulang sampai ketemu desain paling ideal, setiap cm diperhatikan dengan detail. Tak heran jika sekarang Apple Store bagaikan sebuah kuil bagi para fans loyal Apple, tidak sekedar outlet biasa.
Namun Distro Crooz di kawasan Duren Tiga menjadi contoh real, bagaimana sebuah bisnis retail lokal merangkul fans loyal dan juga mengelola penggemar band-band Indie sehingga menjadi customer loyal mereka. Crooz merangkul band Pee Wee Gaskins dan Killing Me Inside yang terbukti menjadi model bisnis yang sustainable buat mereka. Customer Crooz menganggap outlet ini tidak hanya sekedar outlet, namun sebuah pengalaman mereka untuk berkomunikasi dengan band idaman.
2. Human sebagai Asset.
Mengelola manusia sebagai asset juga tidak mudah, karena setiap manusia memiliki pemahaman yang berbeda akan suatu brand. Tentu referensi dari setiap manusia adalah pengalaman mereka sebelumnya, jika biasa memegang toko kelontong, tentu butuh waktu untuk memahami proses bisnis jika disuruh memegang outlet GAP.
Kunci di sini adalah determinasi dan long-term-training. Hal ini sudah terbukti, apalagi di Indonesia, kebanyakan karyawan akan mengeluh ataupun malas jika disuruh ikut training. Padahal sebagai owner kita menginginkan layanan yang prima untuk semua customer. Long term training dikombinasikan dengan praktek di tempat kerja ternyata lebih efektif untuk meningkatkan standar layanan sebuah outlet.
Ritz Carlton di sini menjadi salah satu referensi dalam hal servis, karena hampir di semua cabang Ritz Carlton kita mendapatkan pengalaman serupa yang berkualitas. Mempelajari best practice di hospitality industry seperti Ritz Carlton akan menjadi pengalaman yang unik bagi brand di industri lain.
3. Human Touch.
Sekali lagi, pasar membuktikan brand-brand yang memperhatikan kebutuhan konsumennya, dan memiliki empati kepada customer mereka memiliki profitability yang lebih tinggi. Human Touch ini memang sulit untuk diajarkan, karena terkait dengan personalilty seseorang. 
Dibutuhkan brainwash yang terus menerus supaya kultur melayani konsumen ini bisa mendarah daging dalam diri karyawan. Bank Niaga telah berhasil memberikan standar yang tinggi untuk servis, dari satpam sampai teller memberikan salam dan sapaan hangat kepada konsumen. 
Zappos juga memiliki filosofi untuk "memanusiakan karyawan". Mereka bahkan sudah lebih advance dengan menjadikan happines sebagai DNA perusahaan. Ini tidak mudah, butuh tahunan bagi Tony Hsieh untuk menanamkan ide ini. Begitu juga yang dilakukan oleh Singapore Airlines dan Blue Bird, human touch menjadi differentiator mereka di persaingan pasar penerbangan dan pasar taxi yang sangat keras.
Ketiga hal di atas adalah hal yang paling krusial untuk diperhatikan. Kesuksesan sebuah brand berawal dari kemampuan mereka memanage ujung tombak penjualan ini. Secara konsep di atas kertas, semua brand bisa melakukannya, tetapi hanya sedikit brand yang mampu mengeksekusi konsep ini menjadi the winning business model.
Happy Eid Mubarak, mohon maaf lahir dan batin.

Thursday, April 5, 2012

Sekali lagi soal nama

Nama, sebuah kata simple yang sering dilupakan tapi impactnya sungguh dahsyat.

Banyak brand owner yang lupa ketika mendirikan sebuah brand untuk melakukan cek nama tersebut ke Dirjen HAKI (Hak Kekayaan Intelektual Indonesia), atau hak paten. Padahal ini adalah hal pertama yang seharusnya dilakukan.

Implikasinya banyak:

1. Contoh kasus yang seru dan melelahkan adalah Apple Computer vs. Apple Corp. Apple Computer seperi kita ketahui didirikan oleh Steve Jobs, tetapi Apple Corp. merupakan perusahaan yang memegang hak lisensi untuk lagu-lagu the Beatles. Masalah hak penggunaan nama ini terjadi selama puluhan tahun sampai akhirnya Apple melakukan out-of-court settlement senilai jutaan dollar dan lagu-lagu Betales akhirnya bisa dijual di iTunes.

2.  Kasus Davidoff International melawan pengusaha lokal yang medaftarkan nama tersebut di Indonesia. Kasus ini menjadi contoh kasus klasik teman-teman di marketing club.

3. Kasus lokal seperti Soto Pak Sadi, Ayam Suharti, dll yang berkaitan dengan hak paten dan nama. Maka jangan heran kalau ada pemilik warung terkenal yang mencatumkan papan nama besar di warungnya dengan tulisan "tidak buka cabang di tempat lain".

4. Yang sedang hangat adealah kasus penggunaan nama Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga, awalnya hak penggunaan nama brand Cap Kaki Tiga dipegang oleh Sinde Budi Sentosa, namun setelah dialihkan ke Konicare, masalah hak penggunaan brand menjadi ramai. Dua halaman besar di Kompas menjadi bagian dari kisah yang seru ini.


So simple tips untuk para pemula, jangan lupa cek nama brand Anda, supaya unik, tidak generic, mudah diingat,, dan didaftarkan hak paten nama brand tersebut.


Good Luck.

Saturday, March 31, 2012

Branding yang Powerful

Kemarin ada diskusi menarik dengan teman-teman desainer mengenai branding, dan ada satu pertanyaan yang simpel tapi sungguh tidak mudah untuk dijawab?

Jadi bagaimana caranya menciptakan brand yang powerful?

Definisi powerful di sini banyak artinya, bisa saja yang dimaksud adalah penjualan yang bagus, profit yang tinggi, atau bisa juga mereknya menjadi top of mind alias menjadi yang terdepan yang diingat oleh konsumen, dll.


Supaya penjelasannya tidak njelimet, kta lihat dua brand yang memang sudah advanced dalam brand management:


#1. Bedakan antara product as core product dengan brand:

Product  ------------------------ Brand

Product itu 80% dari cost tetapi hanya menghasilkan 20% dari impact. Sedangkan brand hanya 20% dari cost tetapi akan memberikan 80% impact. Ini adalah formula yang dikemukakan oleh de Chernatony.

Contoh paling sederhana: Kopi Starbucks, kita harus membeli satu gelas dengan harga 30,000 rupiah, bandingkan dengan kopi kapal api tubruk 1 gelas di warung kopi yang hanya 2,000 rupiah. Meskipun mahal, banyak orang rela membelanjakan uangnya karena ada value lain yang didapat, yaitu misalnya tempatnya yang cool, barista yang ramah, dan 'perasaan' menjadi bagian dari masyarakat global.

Begitu juga denga Apple iPad denga harga 7,000,000 rupiah, padahal Nexian juga menjual tablet dengan harga 1,500,000 rupiah. Tapi kepuasan karena kita merasa menjadi orang yang cool kalau menggunakan Apple iPad di tempat umum membuat kita rela mengeluarkan uang lebih hanya untuk perasaan cool tadi.



#2. Untuk menjadi seperti Starbucks atau Apple, kita harus mengerti terlebih dulu konsep dasar brand itu apa, mari kita benahi brand kita dari dasar step-by-step dengan Brand Audit yang simpel:

Layer inti: Ibarat kita mengupas bawang, layer paling ini (core) adalah produk. Tapi jualan produk saja, seperti jualan tomat seperti di artikel sebelumnya, hanya mentok menjadi komoditi. Fokus di komoditi mungkin masih menghasilkan sales, tetapi akan mudah dilibas oleh kompetitor, sangat rentan terhadap perang harga dan tidak akan menjadi apa-apa di masa depan.


Layer berikutnya or next step adalah dibenahi dulu price positioning, design, function, features, financing dan packaging. Ini adalah basic branding yang harus dikonsep dengan solid dan konsisten dalam eksekusinya. Jangan meremehkan hal ini, karena banyak brand yang jatuh akibat menyepelekan elemen-elemen brand di layer kedua.


Kalau sudah rapi layer ketiga yang harus dibenahi adalah delivery, service, ambience di toko, garansi, promosi yang kreatif. Ini adalah hal yang sulit, apalagi jika sales yang dihasilkan sudah bagus. Banyak pemilik brand baru yang terlena, dan tidak mau meningkatkan service. Contoh: Blue Bird adalah brand taksi paling dipercaya oleh konsumen, karena konsisten dalam meningkatkan hal-hal sepele seperti service dan kenyamanan yang tidak dihiraukan oleh pemilik taksi lainnya.


Layer berikutnya sudah masuk lebih abstrak dan lebih intangible yaitu value perception, quality perception, brand identity, corporate image, reputation, brand culture, dll. Ini adalah hal yang paling sulit, karena membutuhkan skill yang tinggi untuk konsep dan pelaksanaannya. Hanya beberapa perusahaan di dunia yang mampu mencapai level ini seperti Google, Apple, Zappos, Amazon, GE, IBM. Di Indonesia mungkin juga hanya beberapa perusahaan yang sudah mulai memikirkan hal ini.


Layer ketiga dan keempat ini yang merupakan intangible value (abstrak) yang akan membuat produk menjadi brand yang powerful. Walaupun hanya merupakan 20% dari cost, tetapi mampu menghasilkan 80% dari revenue di masa depan.

Jadi, coba renungkan brand Anda, lihat step-by-step, apakah sudah di manage dengan benar? Jika sudah dilakukan, ini adalah modal untuk menjadi brand yang powerful, walaupun tentu saja, untuk menjadi brand yang sukses masih banyak hal lain yang perlu dilakukan.


Selamat mencoba.

Thursday, March 29, 2012

Konsistensi di tengah inkonsistensi

Okay, jika sebuah brand sudah memiliki produk, nama, logo, warna, dan toko so what's next?


Konsistensi, ini adalah hal yang mudah tapi sulit, sulit tapi mudah. Alasan utama konsistensi adalah keterbatasan memori manusia. Contoh paling simpel, saat kita SD, kita harus belajar berulang-ulang untuk menghafalkan nama-nama ibukota dan bendera negara, hafalan yang dipaksa oleh bu guru itu saja masih bisa salah pada saat ujian. Jadi bayangkan saja, dalam kondisi dipaksa dan harus mendapatkan nilai bagus untuk lulus saja, kita masih bisa salah menyebutkan ibukota suatu negara apalagi menyebutkan nama brand yang sifatnya sukarela dan dalam situasi butuh gak butuh.

Di sinilah konsistensi diperlukan, walaupun tidak mesti semua elemen dalam brand harus konsisten, tetapi janji utama brand tersebut kepada konsumen haruslah konsisten.

Contoh yang seru adalah Google, kalau diperhatikan, logo Google di mesin pencari di website mulai sering berganti-ganti sesuai occasion yang sedang terjadi, misalnya dalam rangka memperingati lahirnya Sir Isaac Newton, logo Google di adjust sesuai hasil penemuan Newton, dll. Tetapi kalau kita jeli ada hal-hal yang tak dirubah oleh Google, search engine mereka tetap memberikan hasil pencarian yang akurat, website secara general tidak mengalamai perubahan, tetap simpel, dengan warna putih sebagai warna primer dan fokus pada jualan utama mereka yaitu sebagai search engine, dan tidak melebar kemana-mana seperti Yahoo! Konsistensi dalam mengkomunikasikan nilai dan janji brand membuat nama brand Google terpatri erat di benak konsumen.

Contoh lain, jika kita ingat mobil yang paling top di dunia, tentu saja mobil Jerman seperti Mercedez, BMW dan Volkswagen akan langsung teringat. Jika kita menginginkan alat rumah tangga elektronik yang berkualitas, tentu saja merek-merek Jepang seperti Sony, Panasonic dan Sanyo akan nongol di kepala kita. Begitu juga dengan parfum, kita ingat brand-brand Prancis seperti Chanel, Dior, Lancome, dsb. Ingatan kita kepada hal tersebut tidak dibangun dalam satu malam, butuh kekuatan untuk tetap konsisten dalam beberapa puluh tahun atau bahkan ratusan tahun. Chanel sendiri jatuh bangun dalam membangun bisnisnya, begitu juga Mercedes, BMW, Volkswagen dan Sony.

Bagi brand yang baru berdiri, mencari elemen janji dan nilai yang akan dibuat konsisten memang tidak mudah, tapi semua dikembalikan kepada identitas apa yang mau di berikan kepada konsumen. Jika memang mau menjadi merek yang cool, tentu iklan yang cool atau display yang keren menjadi wajib, beberapa brand fashion lokal seperti Goods Dept., Valentino, Biyan, dll sadar akan hal ini. Jika mau konsisten menjadi jagoan ayam, KFC sangat konsisten dalam hal ayam. Jika mau menjadi jagoan kopi, Starbucks sangat fokus dalam berbisnis kopi. Jika mau konsisten dalam berkumis, Fauzi Bowo sangat konsisten, bahkan dalam kampanye sebagai gubernur pernah menggunakan slogan "coblos kumisnya".

So, ini adalah proses pencarian jati diri (identity), mungkin bisa cepat ditemukan atau malah setelah beberapa dekade baru ditemukan, Citibank sebagai contoh, awalnya target konsumen mereka adalah 30% retail consumer dan 70% corporate, tetapi mereka baru sadar akan kekuatan mereka di retail banking dan akhirnya merubah fokus konsumen mereka menjadi  70% retail dan 30% corporate. Jadi tidak ada kata terlambat, selamat bereksplorasi.

Differensiasi paling mudah: Color

Okay, nama sudah ada, produk sudah punya, logo sudah jadi, toko juga lengkap. So what next?

Elemen branding yang penting yang sering terlewat or 'take for granted' adalah color atau warna. Padahal warna adalah kunci penting untuk membuat konsumen selalu ingat dengan band Anda dan menetap di benak mereka.

Pada dasarnya ada jutaan warna di dunia, Apple iPad terbaru bahkan mampu menampung jutaan warna dalam satu screen 10 inch. Namun pada dasarnya ada tiga warna utama yaitu Red, Green dan Blue.

Mata manusia akan memproses warna merah di depan retina, sedangkan warna biru di belakang retina. Maka jangan heran seolah-olah warna merah menusuk mata, sedangkan warna biru terlihat kalem dan jauh.

Pemilihan warna untuk elemen brand seperti logo, corporate website, packaging, point of interests, dll sangatlah penting. Coca-cola memilih warna merah, sebuah pilihan logis karena warna minuman mereka adalah coklat.  Sebaliknya Pepsi memilih biru untuk membedakannnya dengan Coca cola, namun konsumen pasti merasa warna merah adalah warna yang paling pas untuk produk minuman berkarbonasi ini.

Bank-bank banyak menggunakan warna biru sebagai warna dasar brand mereka karena melambangkan ketenangan dan kestabilan. Tiffany & Co. setia menggunakan warna Robin's - Egg Blue karena differensiasi yang timbul dari konsistensi ini sungguh luar biasa, setiap wanita pasti akan merasa bahagia dan tersanjuing begitu melihat sebuah kotak berwarna Robin's - Egg Blue dengan logo Tiffany & Co. di atasnya, walupun kotaknya belum dibuka, meraka yakin sesuatu yang indah ada di dalam kotak tersebut.

Mazda sukses menggunakan warna hijau sebagai warna untuk semua medium komunikasi Mazda2 di Indonesia, hasilnya ketika orang melihat warna hijau ngejreng di iklan mobil, mereka tahu bahwa itu iklan Mazda2. Tak heran jika Mazda2 cukup membuat heboh pasar mobil dan mendapatkan market share yang bagus.

Jadi pilihlah warna yang tepat untuk brand Anda, ini akan menjadi proses differensiasi yang cepat dan murah untuk brand yang sedang dibangun.



Nama Brand: penting tapi kadang dilupakan


Sebenarnya pembahasan nama seharusnya lebih dahulu dilakukan sebelum logo, tetapi memang lebih enak dibahas belakangan.

Mungkin ada yang tahu berapa banyak merek yang terdaftar di dirjen HKI saat ini (2012)?

Jumlahnya sepertinya mengerikan, yaitu 429,541 merek/brand yang terdaftar per Februari 2012. Bahkan di Amerika Serikat mungkin jumlah brand yang terdaftar di departemen kehakiman sudah lebih dari 3 juta merek. Implikasinya ada beberapa hal:

1. Otak manusia terbatas, berapa banyak sih orang yang mampu menyebutkan dengan cepat lebih dari 10 brand dalam memorinya.

2. Kalau nama brand Anda bisa langsung terucap dalam beberapa detik, berarti awareness terhadap brand Anda sangat tinggi. Brand tersebut mempunyai sesuatu yang membuat mudah diingat konsumen.

Bayangkan, jika kita bekerja, dari rumah ke kantor mungkin ribuan message ataupun nama brand yang terlihat, sehingga otak kita tak terasa menjadi jenuh karena saking banyaknya brand yang berusaha mencari perhatian kita setiap hari. Ada yang menghitung, sehari kita terpapar pesan dari brand sebanyak 30,000 kali, ada juga yang menghitung di bawah 10,000 kali.

Jadi inilah salah satu alasan kuat kenapa brand harus di manage secara benar, supaya bisa stand out dan diingat oleh konsumen di Indonesia.  

So tips untuk membuat nama baru untuk sebuah brand:
1. Nama tersebut mentrigger orang untuk membeli.

2. Dari paparan di atas, nama yang mudah diingat adalah wajib hukumnya.

3. Nama harus menjadi daya tarik sentral, menjadi inti dari percakapan.

4. Nama brand juga secara singkat menggambarkan produk yang dijual.

5. Nama brand juga harus menciptakan image yang positif.

Sekarang bayangkan merek Starbucks Coffee dan analisa dengan seksama, apakah merek ini memenuhi semua kriteria di atas?

Salam